Rabu, 29 Juni 2011

LAPORAN ZOOPLANKTON

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Laut merupakan sebuah ekosistem besar yang di dalamnya terdapat interaksi yang kuat antara faktor biotik dan abiotik. Interaksi yang terjadi bersifat dinamis dan saling mempengaruhi. Lingkungan menyediakan tempat hidup bagi organisme-organisme yang menempatinya sebaliknya makluk hidup dapat mengembalikan energi yang dimanfaatkkannya ke dalam lingkungan. Suatu daur energi memberikan contoh nyata akan keberadaan interaksi tersebut. Di laut terjadi transfer energi antar organisme pada tingkatan tropis yang berbedadengan demikian terjadi proses produksi (Fachrul, 2006).

Organisme di dalam air sangat beragam dan dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk kehidupannya atau kebiasaan hidupnya yaitu: bentos, Periphyton, Plankton, Nekton dan Neuston. Plankton adalah organisme melayang atau mengambang di dalam air. Kemampuan geraknya, kalaupun ada, sangat terbatas, sehingga organisme tersebut selalu terbawa oleh arus (Kaswadji, 2001).

Zooplankton memiliki peranan yang sangat penting di lautan, dimana zooplankton merupakan kunci tingkatan trofik terendah (fitoplankton) ke tingkatan trofik tertinggi (sumberdaya ikan) dalam rantai makanan di lautan. Atmosfer dan lautan saling berinteraksi, artinya perubahan yang terjadi pada atmosfer (iklim) akan berpengaruh pada proses-proses yang terjadi di lautan dan sebaliknya. Perubahan karakteristik massa air laut yang disebabkan pengaruh iklim seperti perubahan lapisan homogen (mixed layer) akan berpengaruh pada dinamika biota laut khususnya zooplankton. Sebaliknya, zooplankton memiliki peranan penting dalam menyeimbangkan iklim dimana zooplankton merupakan kunci pembawa karbon dioksida ke laut dalam karena mereka dapat berenang 500 meter ke atas dan bawah (migrasi vertikal) dalam sehari. Seperti yang kita ketahui bahwasannya karbon dioksida merupakan senyawa yang menyebabkan pemanasan global. Aliran massa air yang melalui Perairan Indonesia atau disebut Arus Lintas Indonesia (Arlindo) merupakan aliran yang menghubungkan dua massa air yang memiliki karakteristik berbeda. Arlindo berperan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sirkulasi termohalin dan fenomena iklim dunia (Kaswadji, 2001).

Plankton dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu fitoplankton yang disebut plankton nabati dan zooplankton yang disebut plankton hewani. Zooplankton merupakan tumbuhan yang amat banyak terdapat di seluruh massa air, mulai dari permukaan sampai di kealaman dimana intensitas cahaya masih memungkinkan untuk fotosintesis (Nontji, 1987).

Menurut Nybakken (1988) dalam Fachrul (2006) mengatakan zooplankton yang hidup sangat beraneka ragam, yang terdiri atas berbagai bentuk larva dan bentuk dewasa yang dimiliki hamper seluruh filum hewan. Zooplankton menempati posisi penting dalam rantai makanan dan jarring-jaring kehidupan di perairan. Kemelimpahan zooplankton akan menentukan kesuburan suatu perairan oleh karena itu, dengan mengetahui keadaan plankton (zooplankton termasuk di dalamnya) di suatu daerah perairan, maka akan diketahui kualitas perairan tersebut.
Berdasar latar belakang di atas, praktikan tertarik untuk meneliti dan mengamati zooplankton agar dapat mengetahui definisi dan klasifikasi zooplankton yang beranekaragam.

1.2 Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui definisi serta terminologi Zooplankton
2. Mahasiswa dapat mengklasifikasikan genus serta ciri-ciri Zooplankton


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Zooplankton
Zooplankton merupakan anggota plankton yang bersifat hewani, sangat beraneka ragam dan terdiri dari bermacam larva dan bentuk dewasa yang mewakili hampir seluruh filum hewan (Nybakken,1992).

Zooplankton dan Fitoplankton merupakan bahan dasar semua rantai makanan di dalam perairan. zooplankton menempati perairan sampai dengan 200 m dan bermigrasi vertikal untuk mencari makan yang berupa fitoplankton (Omori dan Ikeda, 1984).

Zooplankton memegang peranan penting dalam jaring jaring makanan di perairan yaitu dengan memanfaatkan nutrient melalui proses fotosintesis (Kaswadji, 2001).

Dalam hubungannya dengan rantai makanan, terbukti zooplankton merupakan sumber pangan bagi semua ikan pelagis , oleh karena itu kelimpahan zooplankton sering dikaitkan dengan kesuburan perairan (Arinardi, 1997).

Zooplankton merupakan anggota plankton yang bersifat hewani, sangat beraneka ragam dan terdiri dari bermacam larva dan bentuk dewasa yang mewakili hampir seluruh filum hewan (Nybakken,1992).

Zooplankton disebut juga plankton hewani, adalah hewan yang hidupnya mengapung, atau melayang dalam laut. kemampuan renangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan kemana arus membawanya. Zooplankton bersifat heterotrofik, yang maksudnya tak dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan inorganik. Oleh karena itu, untuk kelangsungan hidupnya, ia sangat bergantung pada bahan organik dari fitoplankton yang menjadi makanannya. Jadi zooplankton lebih berfungsi sebagai konsumen bahan organik. Ukurannya paling umum berkisar 0,2 – 2 mm, tetapi ada juga yang berukuran besar misalnya ubur-ubur yang bisa berukuran sampai lebih satu meter. Kelompok yang paling umum ditemui antara lain kopepod (copepod), eufausid (euphausid), misid (mysid), amfipid (amphipod), kaetognat (chaetognath). Zooplankton dapat dijumpai mulai dari perairan pantai, perairan estuaria didepan muara sampai ke perairan di tengah samudra, dari perairan tropis hingga ke perairan kutub (Nontji, 2008).

Menurut Nybakken (1992), Zooplankton melakukan migrasi harian dimana Zooplankton bergerak ke arah dasar pada siang hari dan ke permukaan pada malam hari. Rangsangan utama yang menyebabkan migrasi vertikal harian adalah Cahaya. Zooplankton akan bergerak menjauhi permukaan bila intensitas cahaya di permukaan meningkat, dan Zooplankton akan bergerak ke permukaan laut apabila intensitas cahaya di permukaan menurun (Davis, 1955).

Zooplankton ada yang hidup di permukaan dan ada pula yang hidup di perairan dalam. Ada pula yang dapat melakukan migrasi vertikal harian dari lapisan dalam ke permukaan. Hampir semua hewan yang mampu berenang bebas (nekton) atau yang hidup di dasar laut (benthos) menjalani awal kehidupannya sebagai zooplankton yakni ketika masih berupa telur dan larva. Baru dikemudian hari, menjelang dewasa, sifat hidupnya yang bermula sebagai plankton berubah menjadi nekton atau benthos (Nontji, 2008).

2.2 Reproduksi dan Siklus Hidup Zooplankton
Reproduksi antara zooplankton crustacea pada umumnya unisexual melibatkan baik hewan jantan maupun betina, meskipun terjadi parthenogenesis diantara Cladocera dan Ostracoda. Siklus hidup copepoda Calanus dari telur hingga dewasa melewati 6 fase naupli dan 6 fase copepodit. Perubahan bentuk pada beberapa fase naupli pertama terjadi kira-kira beberapa hari dan mungkin tidak makan. Enam pase kopepodit dapat diselesaikan kurang dari 30 hari (bergantung suplai makan dan temperatur) dan beberapa generasi dari spesies yang sma mungkin terjadi dalam tahun yang sama (yang disebut siklus hidup ephemeral) (Parsons, 1984).

Nybaken (1992) menyatakan pada estuaria, sekitar 50-60 % persen produksi bersih fitoplankton dimakan oleh zooplankton. Pada dasarnya hampir semua fauna akuatik muda yang terdapat pada ekosistem mangrove, dikategorikan sebagai zooplankton. Usia muda dari fauna akuatik (larva) sebagian besar berada di ekosistem mangrove. Dan larva dikategorikan sebagai zooplankton, karena termasuk fauna yang pergerakannya masih dipengaruhi oleh pergerakan air, sebagaimana pengertian dari plankton itu sendiri. Oleh karena itu juga Tait (1987) mengkategorikan Gastropoda, Bivalva, telur ikan, dan larva ikan kedalam zooplankton.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa zooplankton dari Filum Protozoa, memakan bakteri dan fungi yang terdapat pada ekosistem mangrove. Selain itu taksa zooplankton yang sering dan banyak terdapat pada ekosistem mangrove adalah Copepoda. Ikan-ikan pelagis seperti teri, kembung, lemuru, tembang dan bahkan cakalang berprefensi sebagai pemangsa Copepoda dan larva Decapoda. Oleh karena itu, terdapat ikan penetap sementara pada ekosistem mangrove, yang cenderung hidup bergerombol dikarenakan kaitannya yang erat dengan adanya mangsa pangan pada ekosistem itu sendiri (Nybakken, 1992).

Reproduksi antara zooplankton crustacea pada umumnya unisexual melibatkan baik hewan jantan maupun betina, meskipun terjadi parthenogenesis diantara Cladocera dan Ostracoda. Siklus hidup copepoda Calanus dari telur hingga dewasa melewati 6 fase naupli dan 6 fase copepodit. Perubahan bentuk pada beberapa fase naupli pertama terjadi kira-kira beberapa hari dan mungkin tidak makan. Enam pase kopepodit dapat diselesaikan kurang dari 30 hari (bergantung suplai makan dan temperatur) dan beberapa generasi dari spesies yang sma mungkin terjadi dalam tahun yang sama (yang disebut siklus hidup ephemeral) (Nybakken, 1992).

2.3 Klasifikasi Zooplankton
Berdasarkan daur hidupnya zooplankton dibagi menjadi 3 kelompok menurut (Nontji, 2008) yaitu:
1. Holoplankton
Plankton yang seluruh daur hidupnya dijalani sebagai plankton, mulai dari telur, larva, hingga dewasa. Contohnya Kopepoda, Amfipoda, dll.
2. Meroplankton
Plankton dari golongan ini menjalani kehidupannya sebagai plankton hanya pada tahap awal dari daur hidup biota tersebut, yakni pada tahap sebagai telur dan larva saja, beranjak dewasa ia akan berubah menjadi nekton. Contohnya kerang dan karang.

3. Tikoplankton
Tikoplankton sebenarnya bukanlah plankton yang sejati karena biota ini dalam keadaan normalnya hidup di dasar laut sebagai bentos. Namun karena gerakan air ia bisa terangkat lepas dari dasar dan terbawa arus mengembara sementara sebagai plankton. Contohnya kumasea (Nontji, 2008).

Menurut Arinadi et al, (1997), Zooplankton dapat dikelompokkan berdasarkan ukurannya menjadi lima sebagai berikut :
1. Mikropankton
Mempunyai ukuran 20-200 μm dan organisme utamanya yaitu Ciliata, Foraminifera, Nauplius, Rotifera, Copepoda
2. Mesoplankton
Mempunyai ukuran 200μm - 2 m dan organisme utamanya yaitu Cladocera, Copepoda, Larvacea.
3. Makroplankton
Mempunyai ukuran 2-20 mm dan organisme utamanya yaitu Pteropada, Copepoda, Euphausiid, Chaetognatha
4. Mikronekton
Mempunyai ukuran 20-200 mm dan organisme utamanya yaitu Chepalopoda, Euphausiid, Sargestid, Myctopid
5. Megaloplankton
Mempunyai ukuran >20 mm dan organisme utamanya yaitu Scyphozoa, Thaliacea

Beberapa filum hewan terwakili di dalam kelompok zooplankton (Arinardi et.al., 1997) :

1. Protozoa
Kingdom Protista terdiri dari protozoa, berukuran kecil, dari fauna bersel tunggal sampai dengan beberapa filum, beberapa jenis terkenal sebagai bentuk yang dijumpai di lautan adalah foraminifera, radiolaria, zooflagellata dan ciliata. Protozoa dibagi dalam empat kelas yaitu: rhizopoda, ciliata, flagelata, dan sporozoa (Sachlan, 1982).
2. Arthropoda
Filum arthropoda adalah bagian terbesar zooplankton dan hampir semuanya termasuk kelas Crustacea. Crustacea berarti hewan-hewan yang mempunyai shell terdiri dari chitine atau kapur, yang sukar dicernakan. Salah satu subklasnya yang penting bagi perairan adalah Copepoda yang merupakan Crustacea holoplanktonik berukuran kecil yang mendominasi zooplankton di semua laut dan samudera (Nybakken, 1992).
3. Moluska
Dalam dunia hewan, filum moluska adalah nomor dua terbesar (Nybakken, 1992). Moluska bertubuh lunak, tidak beruas-ruas dan tubuhnya ditutupi oleh cangkang yang terbuat dari kalsium karbonat. Cangkang tersebut berguna untuk melindungi organ dalam dan isi rongga perut, tetapi ada pula moluska yang tidak bercangkang. Antara tubuh dan cangkang terdapat bungkus yang disebut mantel. Reproduksi terjadi secara seksual dengan fertilisasi internal (Bambang, 2004).
4. Coelenterata
Coelenterata atau Cnidaria adalah invertebrata laut yang pada taraf dewasa sering dijumpai. Biota-biota dalam filum ini meliputi hydra, ubur-ubur, anemon laut dan koral (Nybakken, 1992). Coelenterata mempunai siklus hidup yang menarik. Proses reproduksi aseksual maupun seksual menunjukkan suatu siklus hidup yang terkait dengan periode planktonik (Bambang, 2004).
5. Chordata
Anggota filum Chordata yang planktonik termasuk dalam kelas Thaliacea dan Larvacea, memiliki tubuh agar-agar dan makan dengan cara menaring makanan dari air laut. Larvaceae membangun cangkang di sekelilingnya dan memompa air agar melalui suatu alat penyaring di dalam cangkang ini terus menerus dibangun dan ditanggalkan (Nybakken, 1992).
6. Chaetognatha
Chaetognatha adalah invertebrata laut dengan jumlah spesies relatif sedikit tetapi sangat berperan terhadap jaring-jaring makanan di laut. Biota ini memiliki ciri-ciri antara lain bentuk tubuh memanjang seperti torpedo, transparan, organ berpasangan pada masing-masing sisi, memiliki bagian caudal yang memanjang sirip dan kepala dengan sepasang mata dan sejumlah duri melengkung di sekeliling mulut (Bambang, 2004).

2.4 Peranan Zooplankton dalam Jaring – jaring Makanan di Laut
Dalam hubungannya dengan rantai makanan, terbukti zooplankton merupakan sumber pangan bagi semua ikan pelagis , oleh karena itu kelimpahan zooplankton sering dikaitkan dengan kesuburan perairan (Arinardi, 1997).
Zooplankton penting karena di perairan memanfaatkan nutrient melalui proses fotosintesis (Kaswadji, 2001).

Hewan terbesar di dunia, paus biru (Balaenoptera physalus), makanan utamanya adalah zooplankton kecil, Euphasia superba, yang dikenal pula dengan nama “krill”, yang bentuknya seperti udang kecil berukuran 4 – 5 cm (Nontji, 2008).

Keberadaan zooplankton sebagai produser sekunder dan konsumer primer mempunyai ciri anatomi, morfologi dan fisiologi yang sangat spesifik. Dengan fungsi tersebut, setiap jenis zooplankton mempunyai spesifikasi dan sumbangan yang berbeda. Hal ini terutama karena sebagian dari fase larva biota laut masuk kedalam tahapan zooplankton. Oleh karenanya pengenalan terhadap ciri dan karakterisitik anatomi, morfologi dan fisiologi sangatlah diperlukan. Hal ini juga terkait dengan proses interaksi diantara zooplankton dengan habitatnya sebagai bagian dari strategi untuk mempertahankan kehidupan. (Rohmimohtarto, 1999).

Peranan zooplankton sebagai produsen sekunder ataupun sebagai konsumen primer sangat besar. Zooplankton sering melakukan gerakan naik turun pada perairan yang disebut sebagai migrasi vertical. Gerakan tersebut dimaksudkan untuk mencari makanan yaitu phytoplankton gerakan naik ke permukaan biasanya dilakukan pada malam hari, sedang gerakan ke dasar perairan dilakukan pada siang hari. Gerakan pada malam hari lebih banyak dilakukan karena adanya variasi makanan yaitu phytoplankton lebih banyak, selain itu dimungkinkan karena zooplankton menghindari sinar matahari langsung. (Nontji, 1993).


2.5 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Hidup Zooplankton
2.5.1 Fisika
1. Suhu
Pemilihan suhu yang optimal untuk budidaya pada pembesaran tergantung dari tipe morfologinya, small type dan long type juga berbeda dalam kebutuhanya terutama suhu optimal untuk pertumbuhannya. Suhu optimal antara 15-25oC. pada umumnya peningkatan suhu didalam batas-batas optimal biasanya mengakibatkan aktivitas reproduksi juga meningkat (Ekawati, 2005).
2. Kecerahan
Kecerahan atau kekeruhan air disebabkan oleh adanya partikel-partikel liat lumpur atau lainya yang mengendap, akan merusak nilai guna dasar perairan yang merupakan daerah pemijahan dan habitat berbgai organism (Wirawan, 1992).
Banyaknya cahaya yang menembus permukaan laut dan menerangi lapisan permukaan air laut setiap hari dan perubahan intensitas dengan bertambahnya memiliki peranan penting dalam menentukan pertumbuhan fitoplankton (juga zooplankton yang ada didalamnya) (Rommimohtarto dan Juwono, 2001).

2.5.2 Kimia
1. pH
Zooplankton biasanya banyak terdapat diperairan yang kaya bahan organic, zooplankton alam hidup pada pH > 6,6, sedangkan pada kondisi biasa yang optimal hidup pada kondisi pH 6-8 (Ekawait, 2005).
pH merupakan salah satu bagian dari factor yang sangat berpengaruh terhadap banyak tidaknya kelimpahan zooplankton disuatu perairan, adapun pH optimum yang baik untuk pertumbuhan atau kelimpahan zooplankton disuatu perairan alami adalah pH antara 6,2-8.6 (www.research.vi.oc.id, 2005).
2. DO (Oksigen Terlarut)
Porifera merupakan salah satu zooplankton yang dapat bertahan hidup di air dengan kadar oksigen terlarut yang rendah yakni 2mg/l. tingkat oksigen tertinggi dalam air budidaya tergantung apda suhu, salinitas, kepadatan, jenis makanan yang yang digunakan (Ekawati, 2005).

3. TOM
Menurut Baru (2001), sebagian besar zooplankton menggantungkan sumber nutrisinya pada materi organic, baik berupa fitoplankton maupun detritus.
4. Menurut Owen ( 1975 ), Orthopospat larut dalam air. Fungsi fosfat antara lain untuk:
• Pembedahan sel pertumbuhan
• Metabolisme karbohidrat
• Mempercepat kematangan sel
Menurut Andayani ( 2005 ), senyawa perairan mengandung total organik yang lain. Phospat dihidrolisa menjadi bentuk orto dan kelarutan fosfat organik diuraikan menjadi orthofosfat melalui aktivitas mikrobial.


BAB III
MATERI DAN METODE
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
No Nama Alat Fungsi
1. Mikroskop Untuk mengamati benda – benda mikro
2. Pipet tetes Untuk mengambil dan meneteskan sampel zooplankton
3. Botol Sampel Untuk menempatkan sampel zooplankton
4. Sedgewick rafter Untuk menjaga agar sampel yang akan diamati di mikroskop tidak tumpah atau mencacah jumlah zooplankton
5. Buku Identifikasi Untuk mengidentifikasi sampel yang diamati
6. Alat tulis Untuk mencatat sampel zooplankton
7. Kamera Untuk mendokumentasikan sampel yang diamati

3.1.2 Bahan
No Nama Bahan Fungsi
1. Formalin 4% Untuk mengawetkan sampel zooplankton
2. Sampel Zooplankton Untuk diamati praktikan

3.2 Metode Kerja
1. Siapkanlah mikroskop dan peralatan praktikum.
2. Ambillah sampel zooplankton dengan menggunakan pipet tetes sebanyak 1 ml.
3. Lalu taruhlah ke dalam sedgewick rafter.
4. Tutuplah dengan paper glass, jangan sampai ada gelembung udara dalam sedgewick rafter.
5. Amatilah sampel zooplankton dengan pembesaran mikroskop 40x.
6. Dokumentasikan dengan menggunakan kamera.
7. Gambar dan definisikan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Brachyura
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Malacostraca
Subclass : Eumalacostraca
Superorder : Eucarida
Order : Decapoda
Suborder : Pleocyemata
Infraorder : Brachyura
(www.itis.gov)

4.1.2 Macrosetella
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Copepoda
Infraclass : Neocopepoda
Superorder : Podoplea
Order : Harpacticoida
Family : Miraciidae
Genus : Macrosetella
(www.itis.gov)

4.1.3 Pseudocalanus
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Copepoda
Infraclass : Neocopepoda
Superorder : Gymnoplea
Order : Calanoida
Family : Clausocalanidae
Genus : Pseudocalanus
(www.itis.gov)

4.1.4 Trichocerca
Kingdom : Animalia
Phylum : Rotifera
Class : Eurotatoria
Subclass : Monogononta
Superorder : Pseudotrocha
Order : Ploima
Family : Trichocercidae
Genus : Trichocerca
(www.itis.gov)

4.1.5 Euchaeta
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Copepoda
Infraclass : Neocopepoda
Superorder : Gymnoplea
Order : Calanoida
Family : Euchaetidae
Genus : Euchaeta
(www.itis.gov)

4.1.6 Oithona
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Copepoda
Infraclass : Neocopepoda
Superorder : Podoplea
Order : Cyclopoida
Family : Oithonidae
Genus : Oithona
(www.itis.gov)

4.1.7 Cyclops
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Copepoda
Infraclass : Neocopepoda
Superorder : Podoplea
Order : Cyclopoida
Family : Cyclopidae
Genus : Cyclops
(www.itis.gov)

4.1.8 Balanus
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Thecostraca
Infraclass : Cirripedia
Superorder : Thoracica
Order : Sessilia
Suborder : Balanomorpha
Superfamily : Balanoidea
Family : Balanidae
Genus : Balanus
(www.itis.gov)

4.1.9 Lucifer
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Malacostraca
Subclass : Eumalacostraca
Superorder : Eucarida
Order : Decapoda
Suborder : Dendrobranchiata
Superfamily : Sergestoidea
Family : Luciferidae
Genus : Lucifer
(www.itis.gov)

4.1.10 Paracalanus
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Copepoda
Infraclass : Neocopepoda Huys
Superorder : Gymnoplea
Order : Calanoida
Family : Paracalanidae
Genus : Paracalanus
(www.itis.gov)

4.1.11 Nauplius
kingdom : Animalia
phylum : Copepoda
(www.itis.gov)

4.1.12 Calanus
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Copepoda
Infraclass : Neocopepoda
Superorder : Gymnoplea
Order : Calanoida
Family : Calanidae
Genus : Calanus (www.itis.gov)

4.1.13 Polychaeta
Kingdom : Animalia
Phylum : Annelida
Class : Polychaeta
(www.itis.gov)

4.2 Pembahasan
4.2.1 Brachyura
Kepiting adalah binatang anggota krustasea berkaki sepuluh dari upabangsa (infraordo) Brachyura, yang dikenal mempunyai "ekor" yang sangat pendek (bahasa Yunani: brachy = pendek, ura = ekor), atau yang perutnya (abdomen) sama sekali tersembunyi di bawah dada (thorax). Tubuh kepiting dilindungi oleh kerangka luar yang sangat keras, tersusun dari kitin, dan dipersenjatai dengan sepasang capit. Ketam adalah nama lain bagi kepiting (M. Jeffrey, 2005).
Kepiting terdapat di semua samudra dunia. Ada pula kepiting air tawar dan darat, khususnya di wilayah-wilayah tropis. Rajungan adalah kepiting yang hidup di perairan laut dan jarang naik ke pantai, sedangkan yuyu adalah ketam penghuni perairan tawar (sungai dan danau). Kepiting beraneka ragam ukurannya, dari ketam kacang, yang lebarnya hanya beberapa milimeter, hingga kepiting laba-laba Jepang, dengan rentangan kaki hingga 4 m (Hutabarat dan Evans, 1986).
Kepiting sejati mempunyai lima pasang kaki; sepasang kaki yang pertama dimodifikasi menjadi sepasang capit dan tidak digunakan untuk bergerak. Di hampir semua jenis kepiting, kecuali beberapa saja (misalnya, Raninoida), perutnya terlipat di bawah cephalothorax. Bagian mulut kepiting ditutupi oleh maxilliped yang rata, dan bagian depan dari carapace tidak membentuk sebuah rostrum yang panjang. Insang kepiting terbentuk dari pelat-pelat yang pipih ("phyllobranchiate"), mirip dengan insang udang, namun dengan struktur yang berbeda (http://id.wikipedia.org/wiki/Kepiting).

4.2.2 Macrosetella
Macrostella termasuk kedalam kelas crustaceae dengan ciri – ciri memiliki panjang setae lebih kurang seperti panjang tubuhnya. Tubuhnya berbentuk ramping dan memnajnag dengan kepala berbentuk kerucut yang tumpul. Memiliki furcal rami yang panjangnya kurang lebih empat kali dari lebarnya. Umumnya macrostella betina lebih panjang dibandingkan dengan yang jantan. Biasanya panjang tubuhnya berkisar antara 1,5 mm tanpa setae ( Romimohtarto, K & Juwana, S, 2004 ).

4.2.3 Pseudocalanus
Spesies Pseudocalanus merupakan kontributor penting bagi produksi sekunder dari belahan bumi utara pertengahan ke-lintang samudera tinggi. Pesisir di Teluk Alaska, Pseudocalanus adalah sepanjang tahun hadir dan diwakili oleh tiga spesies. Pada tahun 2001, mimus Pseudocalanus adalah spesies dominan Pseudocalanus di rak selama musim semi dan musim panas, terdiri dari 3-10% dari total, sedangkan Pseudocalanus newmani didominasi di Prince William Sound (10-90%). Pseudocalanus minutus hanya berlimpah di Prince William suara selama awal musim semi. Produksi telur (dengan jumlah dan volume) adalah fungsi dari panjang prosome perempuan dan menurun dari musim semi ke musim panas, namun, variabilitas signifikan disebabkan pengaruh regional yang independen ukuran (M. Jeffrey, 2005).

4.2.4 Trichocerca
Lorica tidak diratakan, asimetris, lebih atau kurang silindris. Kaki pendek dengan ujung h panjang periode yang tidak sama (Diurella subgenus), mempunyai satu kaki ada yang tidak mempunyai kaki (Trichocerca subgenus (s.str).). Spesies Kebanyakan litoral.. Lebih suka oligotropfic asam dan air (Sládeček 1983).

4.2.5 Euchaeta

4.2.6 Oithona
Ciri-ciri
1.Tonjolan-tonjolan kecil yang terdapat pada ruas pertama urosome sangat baik unuk mengidentifikasi hewan ini, tetapi tonjolan ini sangat sulit untuk dilihat
2.Pada betina urosome terdiri dari 5 ruas pada jantan 6 ruas
3.Panjang berkisar antara 0,5 sanpai 1,5 Mm
4.Habitat di perairan laut terbuka.
(Hutabarat dan Evans, 1986)
Oithona termasuk kedalam filum Arthropoda, kelas Maxillopoda, dan ordo cyclopoida. Oithona biasanya untuk jantan berukuran sekitar 0,5 – 1,6 mm dan untuk betina biasanya berukuran sekitar 0,55 – 0,9 mm. Ciri – ciri khusus dari oithona itu sendiri yaitu memiliki setae yang panjang pada furcal rami dan biasanya abdomen agak panjang serta tubuhnya transparan. Selain itu, oithona tidak berwarna dan akan menjadi kabur jika diawetkan. Oithona juga memiliki tonjolan – tonjolan kecil yang terdapat pada ruas pertama orosome sangat baik dipakai sebagai alat bantu dalam hal mengidentifikasi plankton jenis ini, tetapi sangat sulit dilihat. (Hutabarat dan Evans, 1986).

4.2.7 Cyclops
Cyclops adalah genus dari krustasea air tawar kecil (copepoda) ditandai dengan sebuah titik mata tunggal pada segmen kepala Cyclops sp.. Juga fitur antena, tubuh tersegmentasi, 5 pasang kaki, dan ekor "dibagi" disebut furca sebuah. Meskipun terlihat seperti Cyclops copepoda Diaptomus, karakteristik yang membedakan adalah bahwa Cyclops betina membawa dua kantung telur. Ada lebih dari 100 jenis Cyclops, paling berkisar antara 1-5 mm panjang, dan biasanya omnivora yang makan pada ganggang, dan organisme kecil lainnya yang bahkan dapat mencakup larva ikan goreng dan melemah. Meskipun lebih cepat daripada berukuran hampir sama Daphnia , Cyclops merupakan bagian penting dari sistem ekologi di mana mereka adalah mangsa alami benih ikan besar, ikan kecil, dan organisme air lainnya seperti hydras, dan White Larva Nyamuk ini. Cyclops juga penting dalam siklus hidup banyak air tawar seperti cestodes parasit (cacing pita), dan nematoda (cacing gelang) (Sugiarti, 1998).

4.2.8 Balanus
Balanus merupakan anggota dan Subphylum Crustacea kelas Cirripeda. Kelompok binatang laut ini dalam bentuk dewasa membentuk cangkang yang sama sekali tidak mirip udang, tetapi berupa cangkang berbentuk tajuk bunga, terdiri dari lempeng-lempeng kalsium karbonat. Binatang ini dalam bentuk dewasa hidup tertambat kuat pada batuan yang keras, cangkang dari intervetrebrata lain. Balanus pada masa kini banyak dijumpai di tepi laut pada zona litoral (zona pasang surut), melekat pada dinding atau tiang dermaga di pelabuhan, bahkan menempel pada lambung kapal.
Setelah menetas dari telur larvanya (yang disebut sebagai Cypris) menjalani kehidupan bebas (plagis neanic) bergerak dengan jalan berenang. Selama itu terjadi terjadi pergantian kulit sekali sampai tiga kali, baru terjadi perubahan, dimana larva tersebut membentuk cangkang setangkup dan mencari tempat untuk bertambat. Pertambatan ini terjadi pada bagian kepala selanjutnya cangkang yang setangkup dilepas dan selanjutnya ditumbuhkan lempeng-lempeng yaitu lempeng dasar yang dilekatkan secara kuat ke batuan atau tempat penambat yang lain dan lempeng samping yang bersifat tetap dan kaku tak bisa bergerak. Lempeng-lempeng ini berfungsi sebagai pelindung binatang tersebut dalam posisinya yang tertambat. Didalam lempeng yang kaku tersebut terdapat lempeng-lempeng yang bisa digerakkan oleh jaringan-jaringan otot yang melindungi tubuh (Sugiarti, 1998).
Balanus termasuk ke dalam filum Arthropoda , ordo sessilia. Merupakan zooplankton yang termasuk kedalam kelas Crustacea. Tubuhnya tertutup oleh cangkang kapur dan memiliki enam pasang embelan dada bercabang dua. Cangkang balanus ini dibangun langsung menempel pada substrat yakni dinamakan teritip baron(acorn barnacle).kelompok biota ini banyak hidup diperairan pantai dan pada benda-benda melekat dibawah atau diatas permukaan laut atau pada benda-benda terapung. Balanus sp dari kelompok crustasea bersama semua jenis bivalvia dan tunikata merupakan vertebrate yang hidupnya menempel secara permanen pada dinding tiang penyangga dermaga (sessile), sedangkan hewan lainnya memiliki kemampuan berpindah tempat (mobile). Fauna sessile tampaknya mempunyai peranan yang penting dalam proses pembentukan komunitas baik sebagai perintis mapun sebagai anggota utama yang memberikan peluang besar bagi terciptanya berbagai interaksi ekologis dalam rantai makanan dan habitat untuk berlindung ataupun pembesaran dari sebagian siklus hidup anggota komunitas lainnya (Hutabarat dan Evans, 1986).

4.2.9 Lucifer
Lucifera sp.memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Berbentuk seperti larva udang, memiliki kaki renang, terdapat antena
Ukurannya sama dengan protozoa dan acetes tetapi relatif lebih kurus. Ciri khasnya adalah telson yang berentuk persegi tanpa percabangan (Romimohtarto, K & Juwana, S, 2004).
Ukurannya berkisar antara 8-12 mm. Ketika hidup transparan dan setelah diawetkan buram tubuh pipih dengan tangkai mata yang panjang. Sebelum dewasa memiliki 2 tahap yaitu protozoea dan juvenil. Merupakan anggota zooplankton yang khas di daerah tropik (Romimohtarto, K & Juwana, S, 2004).
Lucifer mempunyai tubuh pipih dengan tangkai mata panjang. Sedangkan pada mata menonjol keluar. Tubuhnya mempunyai 4 segmen metasom. Dan pada kepala terdapat sepasang antenna (www.itis.gov)

4.2.9 Paracalanus
Paracalanus termasuk ke dalam filum Arhtropoda, kelas maxillopoda, dan ordo calanoida. Pada paracalanus jantan, urosome mempunyai 5 ruas, ruas anal relatif pendek, dengan lubang kemaluan terletak disamoing kiri. Untuk betina, urosome mempunyai 4 ruas, ruas anal mempunyai panjang yang sama dengan lebarnya dan lubang kemaluan terletak di bawah (Hutabarat dan Evans, 1986).
Ukuran Jantan 0.85-1.02 mm sedangkan betina berukuran 0.85-0.95 mm. Karakteristik yang membedakan yaitu Cephalosome membulat di depan kemudian pedigerous segmen menyatu. Segmen anal lebih panjang dibanding urosome segmen. Antena memanjang dari distal perbatasan sampai urosome. Sebagian besar ditemukan di perairan pantai di daerah tropis. Bersama dengan Acartia tranteri, jenis ini sering mendominasi estuarine perairan yang hangat. Makanannya berupa partikel di daerah muara yang dangkal (Hutabarat dan Evans, 1986).
Untuk plankton dengan subkelas copepoda, biasanya memperoleh makanan dengan cara memnfaatkan gerakan kaki renang dan umbai – umbai mulutnya yang menghasilkan pusaran air (vortex) dan arus yang membawa partikel makanannya ke saringan maksila (umbai – umbai pada bibirnya) yang selanjutnya akan diteruskan ke mulutnya untuk ditelan dan dicerna (Romimohtarto, K & Juwana, S, 2004).

4.2.10 Nauplius
Nauplius adalah larva tingkat pertama Nauplius memiliki tiga pasang umbai – umbai. Hewan ini mendapatkan makanan dengan memanfaatkan gerakan kaki renang dan umbai – umbai mulutnya yang menghasilkan pusaran air dan arus yang membawa partikel makanannya ke saringan maksila yang selanjutnya akan diteruskan ke mulutnya untuk ditelan dan dicerna (Nontji, 2008).
Nauplius termasuk ke dalam meroplankton laut dan merupakan larva tingkat pertama dari copepoda. Larvanya kecil sekali dengan 3 pasang kaki. Kaki pertama tidak bercabang dan 2 pasang kaki berikutnya bercabang. Bentuk badan bulat telur dengan bagian belakang meruncing. Setitik mata tunggal menghiasi bagian badan agak ke pinggir depan. Nantinya akan tumbuh menjadi metanauplius dengan munculnya tanda – tanda maxilla ( maksila ) kesatu dan kedua serta beberapa kaki pada dada, yang akan tumbuh lagi menjadi copepodit ( Romimohtarto, K & Juwana, S, 2004 ).

4.2.11 Calanus
Calanus adalah hewan dari subkelas Copepoda, di bawah kelas Crustacea, filum Arthropoda. Mempunyai kulit luar yang keras terbuat dari kitin. Memiliki dua antenna. Antenna pertama berukuran panjang dan antenna kedua berukuran kecil. Memperoleh makanan dengan memanfaatkan gerakan kaki renang dan umbai – umbai mulutnya yang menghasilkan pusaran air sehingga membawa partikel – partikel makanan masuk ke dalam maksila (Nontji, 2008).
4.2.12 Polychaeta
Polychaeta pada umumnya berbentuk memanjang, silindris dan tersusun atas bagian anterior yang terdiri dari prostomium dan periostomium yang mempunyai maupun tidak mempunyai parapodia. Sejumlah segmen pada bagian badan dan pygidium terletak pada ujung anterior. Setiap segmen mempunyai sepasang parapodia yang terdiri dari dorsal dan ventral (Hutabarat dan Evans, 1986).
Polychaeta banyak ditemui di pantai, sangat banyak terdapat pada pantai cadas, paparan lumpur dan sangat umum ditemui di pantai pasir. Beberapa jenis hidup dibawah batu, dalam lubang lumpur dan yang lainnya lagi hidup dalam tabung yang terbuat dari berbagai bahan. Meskipun mereka adalah hewan benthic, tetapi beberapa jenis berenang bebas di dekat permukaan laut, terutama selama musim memijah (Romimohtarto dan Juwana, 2001).
Cacing Polychaeta terutama hidup di laut, meskipun beberapa jenis nereid mempunyai toleransi terhadap salinitas rendah, dan telah beradaptasi untuk hidup di air payau dan estuaria. Beberapa terdapat di air tawar sampai 60 km dari laut, seperti di bogor terdiri dari sekitar 8000 spesies. Berasal dari bahasa Yunani “poly” berarti banyak dan “cheta” berarti setai atau sikat. Umumnya berukuran panjang 5 cm dengan diameter 2-10 mm. bentuk morfologi dan anatomi sangat beragam (Sugiarti, 1998).


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Zooplankton merupakan anggota plankton yang bersifat hewani.
2. Zooplankton merupakan sumber pangan bagi semua ikan pelagis.
3. Genus yang didapatkan dalam praktikum adalah Brachyura, Macrosetella, Pseudocalanus, Trichocerca, Euchaeta, Cyclops, Oithona, Balanus, Lucifer, Paracalanus, Nauplius, Calanus, Polychaeta, Trichoceica.

5.2 Saran
1. Sebaiknya praktikan di ajak dalam proses pengambilan sampel sehingga dapat mengetahui habitat dari fitoplankton tersebut.
2. Sebaiknya praktikan di jelaskan dulu prosedur sebelum pengamatan dibawah mikroskop dilakukan


DAFTAR PUSTAKA

Andayani, Sri. 2005. Manajemen Kualitas Air untuk Budidaya Perairan .Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya : Malang
Arinardi et all., 1997. Plankton; Fitoplankton dan Zooplankton. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Arinardi, O.H., A.B. Sutomo, S.A. Yusuf, Trianingnsih, E. Asnaryanti dan S. H. Riyono. 1997. Kisaran Kelimpahan dan Komposisi Plankton Predominan di Perairan Kawasan Timur Indonesia. P3O-LIPI. Jakarta.
Barus. 2003. Pengantar Limnologi Jurusan Biologi FMIPA . Universitas Negeri Sumatera Selatan : Palembang
Davis, 1955. The Marine And Fresh Water Plankton. Michigan State University Press. United State Of America.
Ekawati, A. W. 2005. Budidaya Makanan Alami. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.
Ferianita Fachhrul, M. 2006. Metode Sampling Bioekologi, Bumi Aksara, Jakarta
Kaswadji, R. 2001. Keterkaitan Ekosistem Di Dalam Wilayah Pesisir. Sebagian bahan
kuliah SPL.727 (Analisis Ekosistem Pesisir dan Laut). Fakultas Perikanan dan
Kelautan IPB. Bogor, Indonesia.
M. Jeffrey, 2005, Jurnal Penelitian Plankton Vol. 27 No 5
Nontji, Anugerah, Dr. 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta
Nontji, Anugerah. 2008. Plankton Laut. Jakarta : LIPI Press
Nybakken, James W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta:PT. Gramedia.
Nybakken, James W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta Gramedia
Omori, M & T. Ikeda, 1984. Method in Marine Zooplankton Ecology. Krieger Pub Co. 332p.
Owen, O. S. 1975, Natural Resources Conservation An Ecological Approach, New York, Macmillan Publishing Co. Inc
Parsons, T.R. Masayuki, T. dan Barry H., 1984. Biological Oceanographic Processes. 3rd Edition. Pergamon Press, Oxford.
Romimohtarto, Kasijan. 1999. Biologi Laut Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Jakarta : LIPI.
Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Semarang : UNDIP
Sládeček, V., 1983. Rotifers as indicators of water quality. - Hydrobiologia 100: 169–201.
Sugiarti S. 1998. Avertebrata Air. IPB, Bogor.

Sabtu, 11 Juni 2011

Rumput Laut

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Rumput Laut
Seaweed dalam dunia pedagangan dikenal sebagai rumput laut, namun sebenarnya dalam dunia ilmu pengetahuan diartikan sebagai alga (ganggang) yang berasal dari bahasa latin yaitu algor yang berarti dingin. Ganggang laut adalah tanaman tingkat rendah yang tidak memiliki perbedaan susnan kerangka seperti akar, batang, dan daun. Meskipun wujudnya tampak seperti ada perbedaan, tetapi sesungguhnya merupakan bentuk thallus belaka. Bentuk thallus ganggang laut bermacam – macam, ada yang bulat seperti tabung, kantung, rambut, dan sebagainya (Duddington, 1971).
Percabangan thallus bermacam – macam ada yang :
1. dichotomus (bercabang dua terus-menerus)
2. pectinate (berderet searah pada satu sisi thallus utama)
3. ferticillate (cabangnya berpusat melingkari aksis atau sumbu utama)
4. sederhana, tidak bercabang. (Aslan,1991)

Sifat substansi thallus juga beraneka ragam, yaitu :
1. lunak seperti gelatin (gellatinous)
2. keras diliputi / mengandung zat kapur (calcareous)
3. lunak seperti tulang rawan (cartilagenous)
4. berserabut (spongious). (Aslan,1991)

Rumput laut tumbuh di alam dengan melekatkan diri pada karang, lumpur, pasir, batu dan benda keras lainnya. Selain benda mati, rumput lautpun dapat melekat pada tumbuhan lain secara epifitik (Jana-Anggadiredjo, 2006).

Rumput laut adalah bentuk poliseluler dari ganggang (algae) yang hidup di laut. Pada umumnya rumput laut dikelompokkan menjadi empat kelas, yaitu :
1. alga hijau (Chlorophyceae)
2. alga hijau biru (Cyanophyceae)
3. alga coklat (Phaeophyceae)
4. alga merah (Rhodopyceae).

Rumput laut ini merupakan tanaman yang banyak terdapat di hampir seluruh perairan bagian timur Indonesia. Rumput laut hidup dengan menancapkan atau melekatkan dirinya pada substrat lumpur, pasir, karang, fragmen karang mati, kulit karang, batu ataupun kayu.
Faktor faktor yang menentukan pertumbuhan rumput laut adalah :
1. jenis substrat
2. cahaya matahari
3. kondisi laut tempat rumput laut tersebut hidup.

Cahaya matahari adalah faktor utama yang sangat dibutuhkan oleh tanaman laut, sehingga pada kedalaman yang sudah tidak tembus cahaya matahari rumput laut tidak dapat tumbuh (Soegiarto et al, 1978).

Kandungan utama rumput laut adalah karbohidrat sebagai polisakarida kompleks berupa serat. Disamping itu rumput laut juga mengandung :
1. protein
2. sedikit lemak
3. abu yang sebagian besar merupakan senyawa garam natrium dan kalium
4. vitamin-vitamin seperti vitamin A, B1, B2, B6, B12 dan C, betakaroten
5. mineral seperti kalium, kalsium, fosfor, natrium, zat besi dan iodium
(Jana-Anggadiredjo, 2006).

2.2 Pembagian Rumput Laut
Sebagian besar alga laut berwarna indah dan ada yang bercahaya. Pigmen – pigmen dari kromatophor menyerap sinar matahari untuk fotosintesis. Berdasarkan warna yang dimiliki masing – masing alga ini dibagi menjadi beberapa kelas, yaitu :
1. Alga Merah (Rhodophyceae)
Klasifikasi menurut Carpenter dan Niem (1998) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Rhodophyta
Class : Rhodophyceae
Ordo : Gigartinales
Famili : Solieraciae
Genus : Euchema

Menurut Aslan (1991) Rhodophyta memiliki ciri – ciri umum sebagai berikut :
o Thalli (kerangka tubuh tanaman) bulat silindris atau gepeng
o Berwarna merah, merah – coklat, hijau – kuning
o Bercabang selang – seling tidak teratur di atau tricotomus
o Memiliki benjolan (bulat nodule) dan duri – duri atau spines
o Substansi thalli gelatinous dan atau kartilagenous

Divisi Rhodophyta meliputi alga merah yang dapt dibedakan dengan alga eukariotik lain menurut kombinasi dari karakteristiknya. Dalam reproduksi, alga merah tidak memiliki stadia gamet berbulu cambuk. Reproduksi seksualnya melibatkan sel betina yang disebut karpogonia dan gamet jantan yang disebut spermatia (Dawes, 1981; Bold and Wyne, 1985; Sadhori, 1992).

Alga pelekat (holdfast) terdiri dari perakaran sel tunggal atau sel banyak. Alga dari divisi ini memilki pigmen fikobilin yang terdiri dari fikoeritrin (berwarna merah) dan fikosianin (berwarna biru), bersifat adaptasi kromatik, yaitu memilki penyesuaian antara proporsi pigmen dengan berbagai kualitas pencahayaan dan dapat menimbulkan berbagai warna pada thalli, seperti merah tua, merah muda, pirang, coklat, kuning, dan hijau. Dalam dinding selnya terdapat selulosa, agar, carrageenan, porpiran, dan selaran (Aslan, 1998).
Contoh : Euchema cottoni

2. Alga Coklat (Phaeophyceae)
Klasifikasi menurut Bold dan Wyne (1985) :
Kingdom : Plantae
Divisio : Phaeophyta
Class : Phaeophyceae
Ordo : Fucales
Famili : Sargassaceae
Genus : Sargassum

Warna alga ini umumnya coklat. Mempunyai pigmen klorofil a dan c, beta karoten, violasantin, dan fukosantin. Alga coklat ini hampir semuanya merupakan tumbuhan laut dan hanya sedikit yang hidup di air tawar yang diantaranya berukuran sangat besar. Alga coklat berupa tumbuh – tumbuhan bercabang berbentuk benang kecil yang halus (ectocarpus), bertangkai pendek dan berthallus lebar (Copstaria, Alaria, dan Laminaria), bentuknya bercabang banyak (Fucus, Agregia) dan dari Pasifik terdapat alga berukuran raksasa dengan tangkai yang panjang dan daunnya seperti kulit yang panjang (Nereocystis, Pelagophycus, Macrocystis), berbentuk rantai seperti sosis yang kopong dan kasar, dan panjangnya 30 cm atau lebih.

Saat berreproduksi alga ini memilki stadia gamet atau zoospora berbulu cambuk seksual dan aseksual. Persediaan makanan berupa laminaran (beta 1 – 3 ikatana glukan). Pada bagian dalam dinding selnya terdapat asam alginik dan alginat. Mengandung pyrenoid dan tilakoid (lembaran fotosintesis). Ukuran dan bentuk thali beragam. Umumnya tumbuh sebagai alga bentik.
Contoh : Padina australis, Sargassum sp

3. Alga Hijau (Chlorophyceae)
Alga ini berwarna hijau, Chlorophyceae merupakan kelompok alga yang berwarna hijau rumput. Sel – selnya mengandung satu sampai beberapa buah kloroplas. Pigmen fotosintetik yang terdapat di dalam plastida terdiri dari klorofil dan b yang jumlahnya sangat banyak sehingga menutupi pigmen lainnya, yaitu karoten dan xanthofil sehingga alga ini berwarna hijau. Contoh Caulerpa sp, Codium sp, Halimeda sp (Soenardjo, 2001).

Alga kelas ini juga mempunyai bentuk yang sangat beragam, tetapibentuk umum yang djumpai bentuk filamen dengan septa atau tanpa septa, dan berbentuk lembaran (Romimohtarto, 2001).

Perkembangbiakan seksual sebagai berikut isi dari suatu sel biasa tumbuhan yang pipih dan berlapis dua membentuk sel kelamin yang disebut gamet berbulu getar dua. Setelah gamet lepas ke air mereka bersatu berpasangan dan melalui pembelahan sel berkembang menjadi tumbuhan baru yang dikenal dengan sporofit, tetapi biasanya melalui fase benang dulu. Perkembangbiakan dapat juga secara aseksual. Setiap sel biasa dari tumbuhan zoospora berbulu getar empat. Zoospora ini setelah dilepas tumbuh langsung menjadi gametofit yakni tumbuh – tumbuhan yang menghasilkan gamet. Perkembangbiakan aseksual dapat pula terjadi dengan fragmentasi yang membentuk tumbuhan tak melekat (Romimohtarto, 2001).

2. Sifat - Sifat Reproduktif Rumput Laut secara Umum
Pada tanaman rumput laut dikenal tiga macam pola reproduksi, yaitu:
1. Reproduksi generatif (seksual) dengan gamet
2. Reproduksi vegetatif (aseksual) dengan spora
3. Reproduksi fragmentasi dengan potongan thallus (stek)

Pergiliran keturunan antara seksual dengan aseksual merupakan pembiakan alami yang terjadi pada tanaman rumput laut, sedangkan pembiakan secara stek biasanya banyak dilakukan dalam usaha pembudidayaan rumput laut.
1. Reproduksi Seksual
Proses reproduksi seksual pada makroalga (termasuk rumput laut) pada umumnya berlangsung secara anisogami dan oogami yang mana keduanya lazim pula disebut heterogami. Pada makroalga termasuk rumput laut, gamet-gametnya dihasilkan oleh organ-organ khusus gametangia yang terdiri atas dua macam yaitu spermatangia (antheridium) yang menghasilkan sperma, dan oogonium yang menghasilkan sel telur (Bold dan Wynne, 1985 dalam Swasta, 2003).

Sperma dan sel telur masing-masing memliki bentuk, ukuran, dan motilitas yang berbeda. Sperma umumnya ukurannya lebih kecil, berflagela dan tidak dapat bergerak. Namun demikian, pada alga merah (Rhodophyta), spermanya tidak berflagela dan dapat bergerak secara ameboid dan disebut spermatia. Spermatia dihasilkan didalam gametangia kecil yang disebut spermatangia. Sementara itu, oogonium pada alga merah berbentuk tonjolan yang disebut trichogyne yang merupakan tempat untuk menerima gamet jantan (sperma). Oogonium pada alga merah lazim disebut Carpogonium, (Bold dan Wynne, 1985 dalam Swasta, 2003).

Pembentukan gamet jantan (sperma) dan gamet betina (ovum) dalam suatu proses perkawinan memiliki dua pola yaitu:
1) monoecious yaitu bilamana sperma dan ovum berasal dari satu individu
Alga-alga yang melakukan melakukan perkawinan secara monoecious biasanya disebut alga homothallus

2) dioecious yaitu bilamana sperma dan ovum masing-masing berasal dari individu yang berbeda, alga-alga yang melakukan perkawinan secara dioecious biasanya disebut alga heterothallus. (Bold dan Wynne, 1985 dalam Swasta, 2003)

Alga memiliki tiga pola siklus hidup secara seksual, yaitu :

1. Pada pola siklus hidup yang pertama terdapat satu tipe individu yang hidup bebas yang bersifat haploid. Dalam hal ini terjadi pembentukan gamet pada alga yang telah matang. Gamet-gamet ini kemudian akan menyatu membentuk zigot yang bersifat diploid dan dapat mengalami dormansi. Bilamana saatnya tiba (kondisi baik), zigot ini dapat berkecambah, dan pada saat ini intinya mengalami meiosis sehingga menghasilkan zoospora, alpanospora atau juvenile yang seperti dengan alga dewasa dan bersifat haploid. Pola siklus hidup yang pertama ini disebut pula haplobiontik dan dilambangkan dengan symbol H,h dan banyak terjadi pada alga hijau (Chlorophyta) (Bold dan Wynne, 1985 dalam Swasta, 2003).

2. Pada pola sikus hidup yang kedua, satu tipe individu alga yang hidup bebas bersifat diploid. Dalam hal ini meiosis terjadi pada saat pembentukan gamet (gametogenesis) sehingga gamet bersifat haploid, sedangkan individunya bersifat diploid. Pada siklus hidup seperti ini dilambangkan dengan H,d. Individu yang bersifat diploid dapat memperbanyak diri dengan aseksual. Contoh alga yang memiliki pola siklus hidup seperti ini adalah alga hijau yang berbentuk tabung, dan alga batu (Fucales) dari divisi Phaeophyta (Bold dan Wynne, 1985 dalam Swasta, 2003). Berikut disajikan bagan daur hidup reproduksi haplobiontik diploid (H,d).

3. Pada pola siklus hidup yang ketiga terdapat dua tipe individu yang hidup bebas yaitu individu pengahasil gamet (gametofit) yang bersiofat haploid dan individu penghasil spora (sporofit) yang bersifat diploid. Gamet-gamet yang dihasilkan dapat menyatu membentuk zigot yang tidak mengalami masa dormansi. Zigot ini kemudian tumbuh menjadi sporofit yang bersifat diploid. Dalam hal ini, meiosis terjadi pada saat pembentukan spora (sporogenesis), Spora yang dihasilkan bersifat haploid dan kemudian berkembang menjadi gametofit. Baik sporofit maupun gametofit masing-masing dapat memperbanyak dirinya dengan cara aseksual.

Pola siklus hidup seperti ini dikenal dengan diplobiontik yang dilambangkan dengan symbol D,h+d, dan banyak terjadi pada alga merah (Rhodophyta). Siklus hidup diplobiontik ini ada dua macam, yaitu isomorphik dan heteromorphik. Dikatakan isomorphik bilamana gametofit dan sporofit memiliki kesamaan bentuk, sedangkan heteromorphik bilamana gametofit dan sporofit masing-masing bentuknya berbeda. Isomorphik dilambangkan dengan symbol Di,h+d, sedangkan heteromorphik dilambangkan dengan (Bold dan Wynne, 1985 dalam Swasta, 2003). Berikt disajikan bagan tipe daur hidup reproduksi seksual diplobiontik.

2. Reproduksi Aseksual
Pada alga, reproduksi aseksual berupa pembentukan suatu individu baru melalui perkembangan spora, pembelahan sel daan fragmentasi. Pembiakan dengan spora berupa pembentukan gametofit dari tertaspora yang dihasilkan dari tetrasporofit. Tipe pembiakan ini umunya terdapat dapa alga merah. Pada alga yang bersel satu, setiap individu mempunyai kemampuan untuk membelah diri dan membetuk individu baru. Pada alga multiseluler seperti Enteromorpha, Polysiphonia, Glacilaria, dan Eucheuma, potongan thallusnya mempunyai kemampuan berkembang meneruskan pertumbuhan (Aslan, 1998).

3. Reproduksi Fragmentasi dengan potongan thallus
Dalam usaha budidaya rumput laut, misalnya marga Eucheuma, Glacilaria, umumnya dilakukan dengan penyetekan sebagai bibit untuk dikembangbiakan secara produktif. Dalam hal ini rumpun thalli alga dibuat potongan-potongan dengan ukuran tertentu (30 – 50 gram) untuk dijadikan bibit. Bibit stek ini ditanam dengan mengikatkannya pada benang-benang nilon diperairan dengan jarak tertentu atau pada rak apung. Pertumbuhannya dapat dilihat dengan bertambah besarnya bibit tersebut. Cepat atau lambatnya pertumbuhan tergantung pada jenis rumput laut dan mutu lingkungan penanaman (Aslan, 1998).

2.1.3 Produk Kimiawi yang Dapat Dihasilkan oleh Rumput Laut
Produk kimia yang dihasilkan oleh rumput laut adalah sebagai berikut.
1. Algin
Algin merupakan komponen utama dari getah ganggang cokelat (Phaeophyceae). Algin merupakan polimer murni dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linear panjang (Winarmo, 1996).

Pada umunya algin terdapat pada semua spesies ganggang yang tergolong dalam kelas Phaeophyceae. Algin dapat diproduksi dari spesies Macrocytis pyrifera, Laminaria sp. dan Sargasum sp. Algin berfungsi sebagai bahan penunjang yang dapat dimanfaatkan oleh industri makanan sebagai makanan dalam kaleng, pembuatan mentega, pembuatan es krim, pembuatan permen, pembuatan saos, dan lain-lain. Algin juga berfungsi sebagai bahan tambahan yang dimanfaatkan dalam industri tekstil, keramik, fotografi, obat pembasmi serangga, bahan pengawet kayu. Dalam industri farmasi, algin dimanfaatkan untuk pembuatan suspensi, emulsi, tablet, kapsul, plester, dan filter.

Khasiat senyawa alginat dalam dunia kesehatan adalah pada pembuatan obat antibakteri, antitumor, penurun tekanan darah tinggi, dan mengatasi gangguan kelenjar. Hal itu karena unsur-unsur mineral yang terkandung didalamnya seperti iodium, seng, dan selenium (Winarmo, 1996).

2. Karagenan
Karagenan merupakan produk kimia yang dihasilkan oleh rumput laut dari kelas Rhodophyceae (alga merah). Sumber karagenan untuk daerah tropis berasal dari spesies Eucheuma cottoni yang menghasilkan kappa karagenan. Karagenan sangat penting peranannya sebagai stabilitator, bahan pengental, pembentuk gel, pengemulsi dan lain-lain. Sifat ini banyak dimanfaatkan dalam industri makanan, obat-obatan, kosmetik, tekstil, cat, dan pasta gigi.

3. Agar
Agar-agar diproduksi dari rumput laut yang terkolong dalam kelas Rhodophyceae (alga merah). Spesies dari kelas Rhodophyceae yang menghasilkan agar-agar yaitu Gracilaria sp., Hypnea sp., dan Gelidium sp. Fungsi utama agar-agar adalah sebagai bahan pemantap, bahan pembuat emulsi, bahan pengental dan bahan pembuat gel. Selain itu, agar-agar juga banyak dimanfaatkan sebagai media pertumbuhan mikroba.

BAB III
MATERI DAN METODE

3.1 Alat
1. Transek 1x1 m
2. Tali rafia 100 m
3. Plastik
4. Alat tulis (kertas / buku, pensil, bolpoin, penggaris)
5. Kamera digital
6. Masker dan snorkel
7. Sabak

3.2 Cara Kerja
1. Tarik garis lurus pantai sepanjang 100 m kea rah laut menggunakan tali rafia dari bibir pantai. Letakkan transek berukuran 1x1 m pada 20 m pertama dari pantai, 60 m dan 100 m dari titik pertama. Tiap titik dilakukan 1x transek.
A1 A2 A3 A4
A8 A7 A6 A5
A9 A10 A11 A12
A16 A15 A14 A13

2. Catat jenis rumput laut, substrat, dan biota yang berada dalam transek, pengulangan dilakukan 3x tegak lurus dengan garis pantai.
3. Amati jenis biota yang terlihat pada tiap – tiap subtransek.
4. Ambil substrat dengan kedalaman 10 cm pada tiap – tiap subtransek.
5. Ayak substrat tersebut dengan air untuk mendapatkan biota yang hidup.
6. Hitung jumlah biota pada setiap subtransek.
7. Gambarkan zonasi ekosistem rumput laut.
8. Catat aktivitas manusia yang ada di sekitar ekosistem tersebut.
9. Foto biota yang didapat.
10. Hitung :

Indeks Keragaman (H’)
H’ = - ∑ ( ni / N ) / Ln ( ni / N)
Dimana
H’ : indeks keanekaragaman Shannon – Weinner
N : jumlah total individu
ni : jumlah individu tiap spesies ke – i
Klasifikasi Indeks Keanekaragaman adalah sebagai berikut :
H’ < 1 : indeks keanekaragaman rendah 1 ≤ H’ ≤ 3 : indeks keanekaragaman sedang H’ > 3 : indeks keanekaragaman tinggi


BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil

Klasifikasi
Kingdom :plantae
Divisi :Phaeophyta
Kelas :Phaeophyceae
Ordo :Dictyoles
Family :Dictyotaceae
Genus :Padina

5.2 Pembahasan
Rumput laut padina sp ditemukan pada substrat karang laut yang berada pada kedalaman kurang lebih 1,5 meter dibawah permukaan laut dan pada jarak kurang lebih 50 meter dari garis pantai.Jenis substansinya adalah cartilageneus.Cartilageneus berupa pasir pasir kasar yang menempel dibagian talusnya.
Dari praktilum yang dilakukan kemarin di Teluk Awur kita tidak mendapatkan biota lain.Yang berhasil ditemukan hanya rumput laut jenis Padina sp.

Berikut ini ciri-ciri padina sp:
• Bentuk Thalli seprti kipas
• Membentuk segment segment lembaran tipis dengan garis berambut radial dan perkapuran terletak pada bagian atas daun
• Warna coklat kekuning-kuningan atau kadang memutih karena terdapat perkapuran
• Holdfast berbentuk cakram kecil berserabut
• Bagian atas lobus agak melebar dengan pinggiran rata.

Berikut merupakan klasifikasi dari Padina sp:
Kingdom :plantae
Divisi :Phaeophyta
Kelas :Phaeophyceae
Ordo :Dictyoles
Family :Dictyotaceae
Genus :Padina

Rumput memiliki 3 golongan yaitu:
1. Alga merah
Divisi Rhodophyta meliputi algae merah yang dapat dibedakan dengan algae eukariotik lain menurut kombinasi dari karakteristiknya. Dalam reproduksinya algae merah tidak memiliki stadia gamet berbulu cambuk.

Reproduksi seksualnya melibatkan sel betina yang disebut karpogonia dan gamet jantan yang disebut spermatia. Alat pelekat (holdfast) terdiri dari perakaran sel tunggal atau sel banyak, Algae dari divisi ini memiliki pigmen fikobilin yang terdiri dari fikoeretrin (berwarna merah) dan fikosianin (berwarna biru), bersifat adaptasi kromatik, yaitu memiliki penyesuaian antara proporsi pigmen dengan berbagai kualitas pencahayaan dan dapat menimbulkan berbagai warna pada thalli seperti: merah tua,merah muda,pirang,coklat,kuning dan hijau.Dalam dinding selnya algae ini terdapat selulosa, agar,carrageenan,porpiran dan selaran.
Alga merah memiliki ciri ciri sabagai berikut:
• Thallus silindris
• Permukaan licin
• Warna coklat tua
• Memiliki duri-duri yang tumbuh melingkari thallus
• Ujung percabangan meruncing.
Contoh : Eucheuma cottonii.

2. Alga Hijau
Alga ini berwarna hijau, Chlorophyceae merupakan kelompok alga yang berwarna hijau rumput. Sel-selnya mengandung satu sampai beberapa buah kloroplas.Pigmen fotosintetik yang terdapat di dalam plastida terdiri dari klorofol a dan b yan jumlahnya sangat banyak sehingga menutupi pigmen lainnya yaitu karoten dan xantofil sehingga algae ini berwarna hijau.Perkembangbiakan seksual sebagai berikut isi dari suatu sel biasa tumbuhan yang pipih dan berlapis dua membentuk sel kelamin yang disebut gamet berbulu getar dua.Setelah gamet lepas ke air mereka bersatu berpasangan dan melalui pembelahan sel berkembang menjadi tumbuhan baru yang dikenal dengan sporofit,tetapi biasanya melalui fase benang dulu,perkembangbiakan dapat juga secara aseksual. Setiap sel biasa dari tumbuhan zoospore berbulu getar empat.Zoospora ini setelah dilepas tumbuh langsung menjadi gametofit yakni tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan gamet.Perkembangbiakan aseksual dapat pula terjadi dengan fragmentasi yang membentuk tumbuhan tak melekat.

Alga hijau memiliki ciri ciri sabagai berikut:
•Thallus membentuk stolon merambat dengan mempunyai akar penancap ke substrat dan ramuli timbul pada stolon antara perakaran
•Berbentuk menyirip tertaur rapat dan tipis dengan ujung ramuli mendua arah
•Warna hijau muda-hijau tua.
Contoh : Halimeda sp,Caulerpa sertularioides

3. Alga coklat
Warna alga ini umumnya coklat. Mempunyai pigmen klorifil a dan c, beta karoten,violasantin,dan fukosantin.Alga coklat ini hampir semuanya merupakan tumbuhan laut dan hanya sedikit yang hidup di air tawar yang diantaranya berukuran sangat besar.Alga coklat berupa tumbuh-tumbuhan bercabang berbentuk benang kecil yang halus (Ectocarpus),bertangkai pendek dan berthallus lebar (Copstaria,Alaria,dan Laminaria,bebeapa diantaranya mempunyai lebar 2 m ),bentuknya bercabang banyak (Fucus,Agregia) dan dari Pasifik terdapatalga berukuran rakasadengan tangkai yang panjang dan daunnya seperti kulit yang panjang (Nereocystis,Pelagophycus,Macrocystis),berbentuk rantai seperti sosis yang kopong dan kasar,dan panjangnya 30 cm.

Alga coklat memiliki ciri ciri sabagai berikut:
•Bentuk Thalli seprti kipas
•Membentuk segment segment lembaran tipis dengan garis berambut radial dan perkapuran terletak pada bagian atas daun
•Warna coklat kekuning-kuningan atau kadang memutih karena terdapat perkapuran
•Holdfast berbentuk cakram kecil berserabut
•Bagian atas lobus agak melebar dengan pinggiran rata.
Contoh : Padina australis,Sargassum sp


DAFTAR PUSTAKA

Aslan, L.M 1991. Seri Budi Daya Rumput Laut. Kanisius.Yogyakarta
Bold, H.C. dan Wynne, M.J. (1985), Introduction to the Algae, Second Edition, Prentice-Hall Mc. Engelwood Cliffs New York.
Duddington, C. L. 1971. Beginners Guide to Seaweed. Pelham Book Ltd. London
Jana-Anggadiredjo, 2006. Rumput Laut. Penebar Swadaya, Jakarta.
Nontji, Anugrah. 1993. Laut Nusantara. Jakarta Djambatan.
Romimohtarto, K. dan Sri Juwana. 1999. Biologi Laut – Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Pusat Pengembangan Oseanologi – LIPI. Jakarta
Soegiarto. A., Sulistijo, W.S. Atmadja, H. Mubarak 1978. Rumput Laut (algae) Manfaat, Potensi dan Usaha Budidayannya. LON - LIPI Jakarta
Winarno, F., G., 1996, Teknologi Pengolahan Rumput Laut, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

Mangrove

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang kaya dan menjadi salah satu sumberdaya yang produktif.
Hutan mangrove sebagai salah satu sumberdaya kelautan mempunyai peranan yang cukup panting. Secara ekologis berbagai jenis hewan laut hidup di daerah mangrove.

1.2. Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah :
1.Mengetahui, Mangrove jenis apa sajakah yang terdapat pada ekosistem mangrove di Teluk Awur
2.Mengetahui fauna yang hidup pada ekosistem mangrove dan apa pengaruhnya terhadap tumbuhan mangrove.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Mangrove
Asal kata “mangrove” tidak diketahui secara jelas dan terdapat beberapa pendapat mengenai asal-usulnya (Rusila Noor et al., 1999). Macnae(1968) mengatakan “mangrove” merupakan perpaduan antara bahasa portugis ‘mangue’ dan bahasa inggris ‘grove’. Sementara Mastaller (1997) dalam Rusila Noor et al., (1999) mengatakan kata “mangrove” berasal dari bahasa melayu kuno ‘mangi-mangi’ yang digunakan untuk menerangkan marga Avicennia yang masih digunakan sampai saat ini di Indonesia bagian timur.

Kata “Mangrove” berarti tanaman tropis dan komunitasnya yang tumbuh pada daerah intertidal (Tomlinson,1994; Kitamura et al., 1997). Daerah inetrtidal sendiri adalah wilayah dibawah pengaruh pasang surut sepanjang garis pantai, seperti pantai, estuari, laguna dan river banks (English et al., 1997). Komunitas tumbuhan ini terdiri ari berbagai jenis pohon kayu dan semak yang mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan peralihan antara daratan dan lautan (Hogart, 1999). Mangrove merupakan ekosistem yang spesifik karena pada umumnya hanya dijumpai di pantai yang berombak relatif kecil atau bahkan terlindung dari ombak, disepanjang delta dan estuari yang dipengaruhi oleh masukan air dan lumpur dari daratan (Macnae, 1968).

Manfaat hutan mangrove dan elemen-elemennya baik secara langsung maupun tidak langsung mencakup berbagai sektor. Secara fisik hutan mangrove dengan sistem perakarannya yang kokoh mampu melindungi dan menjaga stbilitas pantai (Budiman dan Suhardjo, 1992).

Secara ekologis ekosistem mangrove merupakan habitat alami, daerah pemijahan (spawning ground) serta daerah mencari makan (feeding ground) bagi berbagai jenis biota laut seperti ikan,krustacea dan gastropod dan biota darat seperti burung,reptil dan mamalia. Mangrove menyediakan habitata bagi berbagai jenis biota laut yang bersifat ekonomis dan bersifat kritis dalam daur hidup mereka. Ekosistem mangrove juga dapat berfungsi sebagai tempat asuhan (nursery ground) pada beberapa kasus (Tomlinson, 1994).

Selain itu mangrove sebagai suatu sumberdaya juga sering dimanfaatkan sebagai bahan kontruksi bahan bangunan pantai, bahan baku industri bahan bakar dan perikanan (Budiman dan Suhardjono, 1992).


2.2. Struktur dan Adaptasi
Mangrove Terdiri dari 12 genera tumbuhan berbunga (Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Xilocarpus, Lumnitzera, Laguncularia, Aegiceras, Snaeda dan Conocarpus) yang termasuk dalam 8 famili yang berbeda (Nybakken, 1988).

Vegetasi Hutan Mangrove memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi, dengan jumlah jenis yang tercatat sebanyak 202 jenis yang terdiri dari 89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana, 44 jenis epifit dan 1 jenis sikas. Namun tidak semua jenis mangrove dapat ditemukan pada ekosistem mangrove, paling tidak didalam hutan mangrove terdapat salah satu jenis tumbuhan sejati yang dominan pada hutan mangrove, sepeti famili Rhizophoraceae, Sonneratiaceae, Avicenniaceae, Meliaceae (Bengen, 1999).

Mangrove tertentu, seperti Rhizophora sp dan Bruguiera sp mempunyai daur hidup khusus yang diawali dari benih yang ketika masih pada tumbuhan induk berkecambah dan mulai tumbuh dalam semaian tanpa istirahat. Selama waktu tersebut, semaian memanjang dan distribusi beratnya berubah menjadi lebih berat sehingga terlepas dari induknya dan selanjutnya jatuh dan mengapung pada permukaan air, yang selanjtya terbawa oleh arus ke perairan yang cukup dangkal dimana ujung akar dapat mencapai dasar perairan untuk selanjutnya akar dipancangkan dan secara bertahap tumbuh menjadi akar. Adapula propagul atau buah mangrove jenis Rhizophoraceae yang lepas dari induk dan jatuk keperairan dan langsung menancap ke substrat yang kemudian tumbuh akar yang selanjutnya menjadi pohon (Bengen, 1999)

Mangrove mempunyai sejumlah adaptasi morfologis dan fisiologis khusus yang memungkinkan mereka dapat tumbuh di wilayah yang berlumpur dan dipengaruhi oleh pasang surut yang relatif asin, Anatara lain dengan daur hidup yang khas yaitu vivipari pada jenis Rhizophoraceae,dimana fase perkecambahan terjadi dipohon induk sedangkan Aegiceras dan Avicennia memiliki bentuk reproduksi yang disebut kriptovivipari, dimana fase perkecambahan (germination) terjadi dipohon induk tetapi masih tertutup oleh kulit buahnya (Hogart, 1999).

Mangrove juga memiliki sistem perakaran yang unik dan khas agar dapat hidup di lingkungan yang berlumpur anoksik (Hogart, 1999). Perakaran mangrove secara fisiologis merupakan adapitasi terhadap lingkungan air laut. Scholander dalam Tomlinson (1994) menyatakan bahwa proses pemisahan garam seharusnya terjadi pada ujung akar dan dibantu oleh proses fisiknya. Tomlinson memberikan contoh ultrafiltration yang terjadi ada Aegieras dan Avicennia dimana proses ini menolak 90% pada akar dan meningkat menjadi 97% pada lingkungan yang salinitasnya semakin tinggi.
Bentuk adaptasi lainnya adalah struktur daun yang meiliki kelenjar garam atau salt gland, bagian atas daun Avicennia, Ceriops dan aegiceras terasa asin jika dijilat dan terkadang memperlihatkan kristal-kristal garam dan bagian bawah daun Avicennia tertutup oleh bulu-bulu untuk membantu sekresi air asin dari permukaan daun (Osborne dan Berjak, 1997 dalam Hogart,1999). Tomlinson (1994) menambahkan bahwa proses pengeluaran garam juga dilakukan oleh semua jenis mangrove dengan cara menggugurkan daunnya

2.3. Fungsi dan Manfaat Hutan Mangrove
Menurut Bengen (1999) komunitas hutan mangrove memiliki fungsi dan manfaat yang sangat besar bagi ekosistem perairan, antara lain :
a.Sebagai peredam gelombang dan angin badai, pelindung dari abrasi, penahan lumpur dan perangkap sedimen.
b.Penghasil detritus dari daun mangrove dan dahan pohon mangrove
c.Daerah asuhan (nursery ground), daerah pemijahan (spawning ground) ikan, udang dan biota lainnya, dan sebagai daerah mencari makan ( feeding ground).
d.Penghasil kayu dan bahan baku kertas.
e.Sebagai tempat pariwisata.

2.4. Kondisi Fisik Hutan Mangrove
Nybakken (1988) menyatakan bahwasannya kondisi yang mencolok pad ekosistem mangrove adalah terjadinya pendangkalan atau sedimentasi yang sangat tinggi dikarenakan daerah tempat tumbuh mangrove minim atau tidak ada gelombang dan sistem perakaran mangrove yang khas yang menyebabkan air mengalir menjadi lambat karena minim angin sehingga partikel-partikel sedimen lebih cenderung mengendap dan terjadilah proses sedimentasi yang sangat tinggi karena partikel sedimen sulit mengalir keluar. Sirkulasi yang minimal dan Bakteri yang banyak menyebabkan lingkungan bersifat jenuh. Kelimpahan atau banyaknya bakteri disebabkan karena banyaknya sersah daun mangrove yang jatuh dan merangsang bakteri untuk mengurai sersah tersebut. Dalam proses ini bakteri banyak mengkonsumsi oksigen terlarut dalm perairan.

2.5. Elemen Vegetasi Mangrove
Flora vegetasi mangrve menurut Tomlinson (1994) terbagi menjadi tiga elemen berdasarkan ciri morfologi dan tempat tumbuh, yaitu elemen mayor atau mangrove sejati, elemen minor dan elemen asosiasi. Ciri-ciri elemen mayor yaitu membentuk tegakan murni, mebentuk morfologi khusus untuk beradaptasi dlam lingkungannya, yang sangat jelas adalah akar nafas, berasosiasi dengan pertukaran gas, memiliki mekanisme pengeluaran garam yang sangat khas.

Terdapat 9 genera dari 5 famili yang termasuk dalam elemen mayor, yaitu Genus Avicennia, Laguncularia, Lumnitzera, Nypa, Buguiera, Ceriops, Rhizophora, Sonneratia dan Kandelia. Tetapi perlu dijadikan catatan bahwa terdapat inkonsistensi dalam penggolongan tersebut, seperti contoh Aegiceras sp memiliki mekanisme pengeluaran garam yang termasuk dalam elemen minor (Tomlinson, 1994).

Elemen minor biasanya tidak membentuk elemen vegetasi yang mencolok tetapi hanya dijumpai ditepian habitat mangrove dan jarang membentuk tegakan murni, contohnya : Pempis acidula, Aegiceras corniculatum, Excoecaria agallocha dan Xylocarpus granatum.

Elemen Asosiasi jarang ditemukan tumbuh didalam komunitas mangrove yang sebenarnya dan terkadang hanya terdapat pada vegetasi terestrial, contohnya Sesuvium portulacastrum, Ipomoea pes-caprae, Calotropis gigantea (Tomlinson, 1994; Kitamura et al., 1997).

2.6. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan mangrove
Perkembangan atau Perkembangbiakan mangrove banyak dipengaruhi oleh faktor fisika, kimia dan biologi serta aktifitas manusia, faktor-faktor tersebut antara lain;
1. Suhu
Mangrove tumbuh subur pada daerahh tropis dengan suhu udara lebih dari 20o C

2. Salinitas
Hogart (1999) menyatakan bahwa mangrove memiliki tipikal tumbuh pada lingkungan dengan salinitas diantara air tawar dan air laut optimum untuk pertumbuhan diantara 28-34 ppt (Aksomkoae, 1993).
Mangrove merupakan tumbuhan halophyta yang bersifat euryhalin dimana mampu bertahn hidup pada lingkungan bersalinitas tinggi namun jika kondisi salinitas tinggi terus menerus dapat menyebabkan kematian pada mangrove.

3. Pasang Surut
Mangrove sangat khas hidup di daerah pasang surut, oleh karena itu arus laut akan menambah benih mangrove dan pembawa nutrien bagi mangrove ( Chapman, 1984)

4. Substrat
Mangrove dapat tumbuh pada substrat berlumpur, berpasir atau pecahan karang, tetapi mangrove paling banyak ditemukan pada daerah yang bersubstrat lumpur seperti pada laguna, delta, teluk dan estuari (chapman, 1984).

5. Perlindungan Terhadap Aksi Gelombang
Gelombang yang besar sangat mempengaruhi dan termasuk salah satu faktor yang mempengaruhi siklus hidup mangrove karena semaian mangrove yang akarnya belum kuat dapat rusak dan mati karena arus gelombangnya yang besar.

6. Kompetesi Antar Vegetasi
Menurut Tomlinson (1994) kompetensi antar vegetasi adalah salah satu faktor yang menyebabkan terbentuknya Zonasi mangrove.

7. Aktifitas Manusia
Aktifitas manusia sanga mempengaruhi regenerasi mangrove, karena sejauh ini banyak kerusakan yang disebabkan oleh ulah manusia baik penebangan maupun aktifitas limbah pabrik yang semakin menjadi pencemaran pada lingkungan mangrove.

2.7. Zonasi Mangrove
Bengen (1999) mengemukakan bahwa daerah yang paling dekat dengan laut, substrat agak berpasir sering ditumbuhi oleh Avicennia. Pada zona ini biasanya berasosiasi Sonneratia yang dominan tumbuh pada lumpur dalam yang kaya bahan organik. Lebih kearah darat, hutan mangrove umumnya dijumpai Rhizophora dan pada zona ini biasanya dijumpai Bruguiera dan Xylocarpus, zona transisi biasanya ditumbuhi oleh Nypa fruticans yang termasuk jenis palem.

2.8. Biota Mangrove
Mangrove merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa liar seperti primata, reptil dan burung, gastropod. Selain sebagai tempat berlindung dan tempat mencari makan mangrove juga tempat berkembangbiak bagi burung air dan habitat penting bagi ikan dan krustacea yang penting yang bersifat ekonomis.

2.9. Suksesi dan Kematian
Menurut Nybakken (1988) kematian mangrove disebabkan oleh perubahan iklim dan aktifitas manusia. Perubahan iklim yang sangat ekstrim sangat berpengruh pada rantai ekosistem mangrove. Ombak dan angin yang besar dapat mencabut dan menghanyutkan mangrove, pencemaran lingkungan juga dapt menghambat pertumbuhan bahkan bisa mematikan mangrove.

BAB III
MATERI DAN METODE


3.1. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Ekositem Mangrove dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Sabtu, 21 Mei 2011
Pukul : 09.45 WIB s/d selesai
Tempat : Pantai Teluk Awur, Jepara dan Laboraturium Biologi Kampus Teluk Awur Jurusan Ilmu Kelautan FPIK Universitas Diponegoro

3.2. Alat
Alat dan bahan yang digunakan selama praktikum adalah
o Transek 1 x 1 m, 5 x 5 m, 10 x 10 m, roll meter atau tali raffia 100 m
o Kamera digital
o Buku Identifikasi
o Alat tulis (kertas/buku,pensil,pen,pengaris).

3.3. Cara Kerja
oPasang transek kuadran ukuran 1 x 1 m, 5 x 5 m, 10 x 10 m pada titik atau stasiun yang telah ditentukan.
oHitung banyak jenis atau spesies mangrove yang terdapat didalam transek kuadran ukuran 1 x 1 m, 5 x 5 m, 10 x 10 m.
oMengambil biota mangrove yang terdapat didalam transek kuadran.
oMengambil sampel daun mangrove dari masing – masing jenis mangrove dan kemudian identifikasikan ciri-cirinya.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4 . 1. Hasil
Pada praktikum Keanekaragaman Hayati Laut tentang Ekosistem Mangrove di dapat hasil sebagai berikut ;

a.Transek kuadran ukuran 1m x 1m
o Terdapat 2 jenis seedling atau anakan (dengan ketinggian < 1m) jenis Bruguiera
b.Transek kuadran ukuran 5m x 5m, terdapat :
o Jenis Rhizipora mucronata : 11 pohon
o Jenis Bruguiera : 102 pohon
o Jenis Lumnitzera racemosa : 8 pohon
o Jenis Rhizopora apiculata : 1 pohon
c. Transek kuadran ukuran 10m x 10m, terdapat :
o Jenis Bruguiera : 129 pohon
o Jenis Aigiseras : 6 pohon
o Jenis Rhizopora mucronata : 33 pohon
o Jenis Rhizopora apiculata : 2 pohon

4 . 1.1. Flora
Pada Ekosistem Mangrove yang terdapat 8 jenis flora mangrove yang ada di dalam transek kuadran, yaitu ;
1. Bruguiera cylindrica
2. Rhizophora apiculata
3. Rhizophora mucronata
4. Excoecaria agallocha
5. Ipomoea Pes-caprae
6. Achantus ilicifolius
7. Aegiceras corniculatum
8. Lumnitzera racemosa

4.1.2. Fauna
Fauna yang ditemukan pada ekosistem mangrove adalah Gastropoda.

4.2. Pembahasan
4.2.1. Flora
1. Bruguiera cylindrica
Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Class : Dycotyledoneae
Famili : Rhizophoraceae
Genus : Bruguiera
Ciri-ciri :
- Nama daerah : tancang putih
- Akar : lutut dan banir
- Daun :elips, Ujung meruncing, panjang 8-10cm
- Tipe Biji : vivipari
Bruguiera cylindrica termasuk janis mangrove minor karena dia biasanya dia jarang membentuk tegakan murni. Buah atau propagul spesies ini mengandung karbohidrat yang sangat tinggi dan biasanya digunakan sebagai bahan dasar panganan.

2. Rhizophora apiculata
Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Class : Dycotyledoneae
Famili : Rhizophoraceae
Genus : Rhizophora
Ciri-ciri :
- Nama daerah : bakau
- Akar : tunjang
- Daun : elips menyempit, Ujung runcing,tulang daun merah dan panjang 9-18 cm
- Tipe Biji : vivipari
Rhizophora apiculata atau yang biasanya disebut dengan bakau merah memiliki ciri yang sangat khas yaitu memiliki tulang daun berwarna merah kecoklatan dan daun meruncing dan menyempit. Buahnya atau yang disebut propagul termasuk tipe vivipari dimana buah telah berkecambah saat di pohon, memilik perakaran yang sangat sangat rapat dan biasanya disebut dengan akar tunjang dan akar gantung.

7. Rhizophora mucronata
Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Class : Dycotyledoneae
Famili : Rhizophoraceae
Genus : Baruguiera
Ciri-ciri :
- Nama daerah : bakau
- Akar : tunjang
- Daun :tunggal bersilang,elips melebar hingga bulat memnjang, ujung meruncing, tulang daun hijau dan panjang daun 15-20 cm.
- Tipe Biji : vivipari
Rhizophora mucronata atau disebut juga dengan bakau ini memiliki tulang daun berwarna putih kekuningan, sangat mudah membedakan antara Rhizophora apiculata dengan Rhizophora mucronata yaitu dengan cara melihat akar, daun dan bunga atau buahnya.

8. Excoecaria agallocha
Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Class : Dycotyledoneae
Famili : Euphobiaceae
Genus : Excoecaria
Ciri-ciri :
- Nama daerah : buta-buta
- Akar : nafas
- Daun : elips , ujung runcing,mempunyai getah yang dapat membutakan sementara, panang 6-9 cm
- Tipe Biji : normal
Excoecaria agallocha atau yang biasanya di kenal dengan buta-buta termasuk jenis mangrove minor, dia memiliki getah pada daun, akar dan batangnya yang dapat membutakan sementara, biasanya masyarakat pesisir menggunakan akar buta-buta untuk mencari ikan dilaut karena akar dari buta-buta mengandung zat tanin yang bisa membuat ikan menjadi pinsan atau mati.

9. Ipomoea pes-caprae
Menurut Kitamura et., al (1997) spesies ini meiliki nama lokal katang-katang, daun kacang dan daun barah. Tumbuhan ini tumbuh merambat dan tersebar di tanah. Bunga berwarna merah berbentuk seperti terompet, soliter dan diameter hingga 10 cm. Buah berwarna coklat dengan diameter 1-2 cm bentuknya seperti kapsul. Banyak ditemukan dipantai berpasir.

10. Achantus ilicifolius
Nama lokalnya adalah jeruju. Spesies ini merupakan semak dan tingginya hingga 1,5 m. Bunganya berujung lancip berwarna biru terang atau ungu. Daunnya berbentuk sederhana dan berlawanan dengan panjang 5-15 cm dan memiliki duri yang tajam (Kitamura, 1997).

11. Aegiceras corniculatum
Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Class : Dycotyledoneae
Famili : Myrsinaceae
Genus : Aegiceras
Ciri-ciri :
- Nama daerah : teruntum
- Akar : nafas
- Daun : bulat telur terbalik hingga elips, ujung membundar, panjang 5-10 cm
- Tipe Biji : Kriptovivipari
Aegiceras memiliki toleransi yang sangat tinggi terhadap salinitas, tanah dan cahaya yang beragam. Jenis ini pada umumnya tumbuh pada tepi daratan daerah mangrove yang tergenang untuk pasang naik yang normal dan jalur payau secara musiman. Umumnya dijumpai sebagi semak belukar yang bisa hidup dengan tinggi mencapai 4 meter, daunya lonjong dengan panjang 5-10 cm dan daunnya memiliki kelenjar garam untuk mensekresi garam. Proses pengeluaran garam Sangat jelas sekali pada daun Aegiceras, biasanya diatas daun terdapat garam dan mengkilap. Mangrove ini termasuk jenis minor.

8. Lumnitzera racemosa
Ciri-ciri :
- Nama daerah : kedukduk
- Akar : nafas
- Daun : bulat telur, menyempit, ujung membundar dan panjang 3-7 cm
- Tipe Biji : normal
Lumnitzera racemosa berbentuk semak dan tingginya mencapai 5 m, buahnya berwarna kekuningan dan mengkilap dan bunganya berwarna putih (Kitamura, 1997). Daun Lumnitzera terdapat daging bila di patahkan, warna daun bisa berubah tergantung daerah dan kadar salinitas tempat hidupnya. Mangrove ini termasuk janis minor.

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Ekosistem Mangrove merupakan suatu ekosistem peralihan antara darat dan laut. Terdapat di daearah tropik atau subtropik disepanjang pantai yang terlindung dan dapt hidup dengan toleransi salinitas yang tinggi, lama penggenangan, substrat dan morfologi pantainya.
Terdapat beberapa jenis flora mangrove yang ditemukan di teluk awur, jepara. Yaitu: Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Bruguiera cylindrica, Excoecaria agallocha, Ipomoea pes-caprae, Achantus ilicifolius, Aegiceras corniculatum, Lumnitzera racemosa.
Fauna yang terdapat pada praktikum di teluk awur jepara adalah jenis gastropoda yang berfungsi untuk mangurai atau memakan sersah daun mangrove dan kemudian mengeluarkanya dalam bentuk feses sehingga substrat pada lingungan mangrove menjadi subur karena terdapat banyak nutrin dan zat hara karena proses tersebut mengingat pergerakan air pada daerah mangrove sangat lamban atau cenderung diam.

5.2 Saran
5.2.1. Sebaiknya praktikum mangrove dilakukan pada dua atau tiga tempat sehingga kita dapat membandingkan dan membedakan tingkat biodiversitasnya.
5.2.2. Sebaiknya praktikan diajari cara memilih stasiun atau titik yang akan digunakan.


DAFTAR PUSTAKA


Tomlinson, P. B. 1994. The Botany of Mangrove. Cambridge Universiy Press. UK. 419 hal

Rusila Noor, Y., M. Khazali dan I N. N. Suryadiputra.1999. apanduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. PKA/WI-IP.Bogor. 220 hal

Macnae, W. 1968. A General Account of The Fauna and Flora of Mangrove Swamps ang Forest in Indo-West Pasific Region. Adv. Marine Biology. 6: 73-270

Kitamura, S., C. Anwar, A. Chaniago dan S. Baba. 1997. Handbook of Mangrove in Indonesia. Bali and Lombok. JICA/ISME.Denpasar. 119 hal

Chapman, V.J.C. 1984. Mangrove Biogeography dalm F.D. Poor dan Inka Dor (Eds). Hydrobiology of Mangal. W. Junk Publisher. Boston

Hogart, P . J. 1999. The Biology of Mangroves. Oxford University Press, Inc. New York. 228 hal

Kennish, M.J. 1990. Ecology of Estuaries. Biological Aspect. Vol. II Crc Press Inc. USA

Aksornkoae, S. 1993. Ecology and Management of Mangrove. IUCN. Bangkok. Thailand. 176 hal

Lamun

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Di laut kita terdapat dua kelompok utama tumbuh-tumbuhan berbunga yang keduanya membentuk ekosistem yang penting di wilayah pantai, yaitu lamun dan mangrove (K. Romimohtarto dan Sri Juwana, 2009). Lamun memiliki perbedaan yang nyata dengan tumbuhan yang hidup terbenam dalam laut lainnya, seperti makro alga atau rumput laut (seaweeds). Tanaman lamun memiliki bunga dan buah yang kemudian berkembang menjadi benih. Pertumbuhan lamun sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor internal seperti kondisi fisiologis dan metabolisme; serta faktor eksternal, seperti zat-zat hara dan tingkat kesuburan perairan.

Di seluruh dunia diperkirakan terdapat sebanyak 52 jenis lamun, di mana di Indonesia ditemukan sekitar 15 jenis yang termasuk ke dalam 2 famili: (1) Hydrocharitaceae, dan (2) Potamogetonaceae. Jenis yang membentuk komunitas padang lamun tunggal, antara lain: Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Cymodocea serrulata, dan Thallassodendron ciliatum. Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang juga cukup tinggi. Pada ekosistem ini hidup beraneka ragam biota laut (Gambar 17), seperti ikan, krustasea, moluska (Pinna sp., Lambis sp., Strombus sp.), Ekinodermata (Holothuria sp., Synapta sp., Diadema sp., Archaster sp., Linckia sp.), dan cacing Polikaeta (http://blog.unila.ac.id/ekoefendi/2009/08/21/ekosistem-lamun/)

Lamun (seagrasses), atau disebut juga ilalang laut, adalah satu-satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yag tercatat di lingkungan laut. Tumbuh tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang dangkal. (K. Romimohtarto dan Sri Juwana, 2009). Lamun juga memilki peran terhadap organisme lain secara langsung maupun tak langsung. Salah satunya adalah sebagai habitat dari suatu biota. Oleh karena itu keberadaan lamun sangatlah penting untuk dijaga.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah:
1. Mengetahui keanekaragaman biota di ekosistem padang lamun.
2. Mengetahui hubungan / interaksi antar biota pada ekosistem padang lamun.
3. Mampu menganalisa faktor pertumbuhan dari biota yang terdapat pada ekosistem padang lamun.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Lamun
Lamun (seagrass) adalah kelompok tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) dan berkeping tunggal (Monokotil) yang mampu hidup secara permanen di bawah permukaan air laut (Sheppard et al., 1996). Lamun (seagrass) merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang memiliki dan memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati yang hidup terendam di dalam laut beradaptasi secara penuh di perairan yang salinitasnya cukup tinggi atau hidup terbenam di dalam air, beberapa ahli juga mendefinisikan lamun (Seagrass) sebagai tumbuhan air berbunga, hidup di dalam air laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, serta berbiak dengan biji dan tunas (Pipit Fitriana,2007).


Gambar 1. Berbagai Macam Jenis Lamun
Dalam ekosistem lamun, rantai makanan tersusun dari tingkat-tingkat trofik yang mencakup proses dan pengangkutan detritus organik dari ekosistem lamun ke konsumen yang agak rumit. Sumber bahan organik berasal dari produk lamun itu sendiri, di samping tambahan dari epifit dan alga makrobentos, fitoplankton dan tanaman darat. Zat organik dimakan fauna melalui perumputan (grazing) atau pemanfaatan detritus (K. Romimohtarto dan Sri Juwana, 2009).

Secara rinci klasifikasi lamun menurut Den Hartog (1970) dan Menez, Phillips, dan Calumpong (1983) adalah sebagai berikut :
Devisi : Anthophyta
Kelas : Angiospermae
Famili : Potamogetonacea
Subfamili : Zosteroideae
Genus : Zostera, Phyllospadix, Heterozostera

2.2 Habitat Lamun
Lamun tumbuh subur terutama di daerah terbuka pasang surut dan perairan pantai atau goba yang dasarnya berupa lumpur, pasir, kerikil, dan patahan karang mati, dengan kedalaman 4 meter. Padang lamun terbentuk di dasar laut yang masih ditembusi cahaya matahari yang cukup untuk pertumbuhannya (http://dwiajengpramesti.wordpress.com/2010/01/08/lamun-seagrass/).

Untuk hidupnya, lamun memerlukan sinar matahari, air yang jernih dan banyak zat makanan. Itulah sebabnya lamun hidup di perairan dekat pantai yang berpasir atau berlumpur (Kiki Anggraini,2008).

Hampir semua tipe substrat dapat ditumbuhi lamun, mulai dari substrat berlumpur sampai berbatu. Namun padang lamun yang luas lebih sering ditemukan di substrat lumpur-berpasir yang tebal antara hutan rawa mangrove dan terumbu karang. Sedangkan sistem (organisasi) ekologi padang lamun yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik disebut Ekosistem Lamun (Seagrass ecosystem).Habitat tempat hidup lamun adalah perairan dangkal agak berpasir dan sering juga dijumpai di terumbu karang (http://blog.unila.ac.id/ekoefendi/2009/08/21/ekosistem-lamun/).


2.3 Morfologi Lamun
Seperti tumbuhan pada umumnya, lamun memiliki morfologi antara lain daun, batang dan rhizoma, serta akar.

2.3.1 Daun
Seperti semua tumbuhan monokotil, daun lamun diproduksi dari meristem basal yang terletak pada potongan rhizoma dan percabangannya. Meskipun memiliki bentuk umum yang hampir sama, spesies lamun memiliki morfologi khusus dan bentuk anatomi yang memiliki nilai taksonomi yang sangat tinggi. Beberapa bentuk morfologi sangat mudah terlihat yaitu bentuk daun, bentuk puncak daun, keberadaan atau ketiadaan ligula. Contohnya adalah puncak daun Cymodocea serrulata berbentuk lingkaran dan berserat, sedangkan C. Rotundata datar dan halus. Daun lamun terdiri dari dua bagian yang berbeda yaitu pelepah dan daun. Pelepah daun menutupi rhizoma yang baru tumbuh dan melindungi daun muda. Tetapi genus Halophila yang memiliki bentuk daun petiolate tidak memiliki pelepah.

Anatomi yang khas dari daun lamun adalah ketiadaan stomata dan keberadaan kutikel yang tipis. Kutikel daun yang tipis tidak dapat menahan pergerakan ion dan difusi karbon sehingga daun dapat menyerap nutrien langsung dari air laut. Air laut merupakan sumber bikarbonat bagi tumbuh-tumbuhan untuk penggunaan karbon inorganik dalam proses fotosintesis.

2.3.2 Batang dan Rhizoma
Semua lamun memiliki lebih atau kurang rhizoma yang utamanya adalah herbaceous, walaupun pada Thallasodendron ciliatum (percabangan simpodial) yang memiliki rhizoma berkayu yang memungkinkan spesies ini hidup pada habitat karang yang bervariasi dimana spesies lain tidak bisa hidup. Kemampuannya untuk tumbuh pada substrat yang keras menjadikan T. Ciliatum memiliki energi yang kuat dan dapat hidup berkoloni disepanjang hamparan terumbu karang di pantai selatan Bali, yang merupakan perairan yang terbuka terhadap laut Indian yang memiliki gelombang yang kuat.

Struktur rhizoma dan batang lamun memiliki variasi yang sangat tinggi tergantung dari susunan saluran di dalam stele. Rhizoma, bersama sama dengan akar, menancapkan tumbuhan ke dalam substrat. Rhizoma seringkali terbenam di dalam substrat yang dapat meluas secara ekstensif dan memiliki peran yang utama pada reproduksi secara vegetatif. Dan reproduksi yang dilakukan secara vegetatif merupakan hal yang lebih penting daripada reproduksi dengan pembibitan karena lebih menguntungkan untuk penyebaran lamun. Rhizoma merupakan 60-80% biomas lamun.

2.3.3 Akar
Terdapat perbedaan morfologi dan anatomi akar yang jelas antara jenis lamun yang dapat digunakan untuk taksonomi. Akar pada beberapa spesies seperti Halophila dan Halodule memiliki karakteristik tipis (fragile), seperti rambut, diameter kecil, sedangkan spesies Thalassodendron memiliki akar yang kuat dan berkayu dengan sel epidermal. Jika dibandingkan dengan tumbuhan darat, akar dan akar rambut lamun tidak berkembang dengan baik. Namun, beberapa penelitian memperlihatkan bahwa akar dan rhizoma lamun memiliki fungsi yang sama dengan tumbuhan darat.
Akar-akar halus yang tumbuh di bawah permukaan rhizoma, dan memiliki adaptasi khusus (contoh : aerenchyma, sel epidermal) terhadap lingkungan perairan. Semua akar memiliki pusat stele yang dikelilingi oleh endodermis. Stele mengandung phloem (jaringan transport nutrien) dan xylem (jaringan yang menyalurkan air) yang sangat tipis. Karena akar lamun tidak berkembang baik untuk menyalurkan air maka dapat dikatakan bahwa lamun tidak berperan penting dalam penyaluran air.
Patriquin (1972) menjelaskan bahwa lamun mampu untuk menyerap nutrien dari dalam substrat (interstitial) melalui sistem akar-rhizoma. Selanjutnya, fiksasi nitrogen yang dilakukan oleh bakteri heterotropik di dalam rhizosper Halophila ovalis, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium dan Thalassia hemprichii cukup tinggi lebih dari 40 mg N.m-2.day-1. Koloni bakteri yang ditemukan di lamun memiliki peran yang penting dalam penyerapan nitrogen dan penyaluran nutrien oleh akar. Fiksasi nitrogen merupakan proses yang penting karena nitrogen merupakan unsur dasar yang penting dalam metabolisme untuk menyusun struktur komponen sel.
Lamun sering ditemukan di perairan dangkal daerah pasang surut yang memiliki substrat lumpur berpasir dan kaya akan bahan organik. Pada daerah yang terlindung dengan sirkulasi air rendah (arus dan gelombang) dan merupakan kondisi yang kurang menguntungkan (temperatur tinggi, anoxia, terbuka terhadap udara, dll) seringkali mendukung perkembangan lamun. Kondisi anoksik di sedimen merupakan hal yang menyebabkan penumpukan posfor yang siap untuk diserap oleh akar lamun dan selanjutnya disalurkan ke bagian tumbuhan yang membutuhkan untuk pertumbuhan.
Diantara banyak fungsi, akar lamun merupakan tempat menyimpan oksigen untuk proses fotosintesis yang dialirkan dari lapisan epidermal daun melalui difusi sepanjang sistem lakunal (udara) yang berliku-liku. Sebagian besar oksigen yang disimpan di akar dan rhizoma digunakan untuk metabolisme dasar sel kortikal dan epidermis seperti yang dilakukan oleh mikroflora di rhizospher. Beberapa lamun diketahui mengeluarkan oksigen melalui akarnya (Halophila ovalis) sedangkan spesies lain (Thallassia testudinum) terlihat menjadi lebih baik pada kondisi anoksik. Larkum et al (1989) menekankan bahwa transport oksigen ke akar mengalami penurunan tergantung kebutuhan metabolisme sel epidermal akar dan mikroflora yang berasosiasi. Melalui sistem akar dan rhizoma, lamun dapat memodifikasi sedimen di sekitarnya melalui transpor oksigen dan kandungan kimia lain. Kondisi ini juga dapat menjelaskan jika lamun dapat memodifikasi sistem lakunal berdasarkan tingkat anoksia di sedimen. Dengan demikian pengeluaran oksigen ke sedimen merupakan fungsi dari detoksifikasi yang sama dengan yang dilakukan oleh tumbuhan darat. Kemampuan ini merupakan adaptasi untuk kondisi anoksik yang sering ditemukan pada substrat yang memiliki sedimen liat atau lumpur. Karena akar lamun merupakan tempat untuk melakukan metabolisme aktif (respirasi) maka konnsentrasi CO2 di jaringan akar relatif tinggi.

2.4 Padang Lamun
Padang lamun merupakan ekosistem pesisir yang ditumbuhi oleh lamun sebagai vegetasi yang dominan. Lamun atau rumput-rumputan laut (seagrass) adalah kelompok tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) dan berkeping tunggal (monokotil) yang mampu hidup secara permanen di bawah permukaan air laut. Lamun tidak sama dengan rumput laut, yang sebagian jenisnya digunakan sebagai bahan agar-agar, yang sesungguhnya lebih tepat disebut alga laut. Jenis-jenis lamun ini termasuk ke dalam empat suku (familia) yakni Posidoniaceae, Zosteraceae, Hydrocharitaceae, dan Cymodoceaceae.
Lamun biasa tumbuh di atas paparan pasir atau lumpur yang terendam air laut dangkal. Karena perlu berfotosintesis, komunitas lamun berada di antara batas terendah daerah pasang surut sampai kedalaman tertentu di mana cahaya matahari masih dapat mencapai dasar laut.

Gambar 2. Padang Lamun
Padang lamun merupakan suatu komunitas dengan produktivitas primer dan sekunder yang sangat tinggi, detritus yang dihasilkan sangat banyak, dan mampu mendukung berbagai macam komunitas hewan.

2.5 Sifat Ekologis
Keragaman jenis-jenis lamun sesungguhnya tak berapa tinggi. Total hanya sekitar 50 jenis lamun di seluruh dunia (den Hartog 1977 dalam Nybakken 1988). Akan tetapi padang lamun memiliki sifat-sifat ekologis penting sebagai habitat aneka jenis hewan, terutama ikan-ikan kecil dan avertebrata (hewan tak bertulang belakang).
Lamun tumbuh dengan padat sampai dengan 4.000 individu/m², sehingga membentuk lapisan serupa permadani (Nybakken 1988). Jenis-jenis lamun ini memiliki morfologi yang kurang lebih serupa, berdaun panjang dan tipis yang tumbuh dari rizoma (akar tinggal) yang menjalar di bawah lapisan pasir. Oleh sebab itu lamun dapat tumbuh rapat dan padat berdekatan.

Struktur demikian bersifat meredam gerak arus dan gelombang, sehingga padang lamun yang luas bisa lebih tenang dari lingkungan di sekitarnya. Struktur dan kondisi lingkungan serupa itu pada gilirannya memungkinkan butir-butir debu dan aneka serpih bahan padat yang melayang-layang terbawa air laut terendapkan di paparan lamun.

Lingkungan yang tenang, tersedianya banyak sumber makanan serta cover (perlindungan) berupa tutupan vegetasi lamun, telah menarik kehadiran aneka invertebrata dan ikan-ikan kecil. Daun-daun lamun juga berasosiasi dengan beberapa jenis alga laut kecil yang bersifat epifit, yang merupakan makanan bagi kebanyakan hewan kecil itu. Dengan demikian tidak mengherankan apabila padang lamun ini menjadi habitat yang kaya jenis-jenis hewan laut.
Padang lamun menyebar hampir di seluruh kawasan pesisir di Indonesia. Kedalaman laut yang dapat dicapai oleh ekosistem ini sekitar 50-60 m, bergantung pada topografi dan kecerahan laut setempat. Akan tetapi umumnya padang lamun berada pada kedalaman sekitar 1-10 m atau lebih sedikit. Pada saat surut terendah, padang-padang lamun di tempat dangkal kerap mengering dan terpajan sinar matahari.


2.6 Biota Padang Lamun
Seperti diuraikan di atas, keragaman spesies lamunnya sendiri tidak seberapa banyak. Di Indonesia sendiri hanya didapati sekitar 12 spesies dari tujuh marga (genus). Jenis-jenis itu tergolong ke dalam suku Hydrocharitaceae (marga-marga Enhalus, Halophila dan Thalassia) dan Potamogetonaceae (Cymodocea, Halodule, Syringodium dan Thalassodendron). Tidak hanya hidup di padang lamun, tumbuhan laut ini juga kerap didapati di sela-sela terumbu karang (Nontji 1987).
Meski demikian, padang lamun merupakan salah satu bentuk ekosistem laut yang kaya jenis. Kekayaan ini terutama ditunjukkan oleh jenis-jenis hewan yang hidup di sini, baik sebagai penetap maupun pengunjung yang setia. Aneka jenis cacing, moluska (siput dan kerang), teripang, ketam dan udang, dan berbagai jenis ikan kecil hidup menetap di sela-sela kerimbunan jurai-jurai lamun. Juga beberapa jenis bulu babi yang hidup dari daun-daun lamun.

Gambar 3. Crustacea merupakan salah satu penghuni padang lamun.
Di samping itu berbagai jenis hewan dan ikan juga menggunakan padang lamun ini sebagai tempat memijah dan membesarkan anak-anaknya. Di antaranya adalah ikan beronang (Siganus spp.) dan beberapa jenis udang (Penaeus spp.). Beberapa jenis reptil dan mamalia laut juga memanfaatkan padang lamun sebagai tempat mencari makanan. Misalnya penyu hijau (Chelonia mydas), duyung alias dugong (Dugong dugong) di perairan Australasia serta manate (Trichechus manatus) di Karibia. Duyung dan manate adalah mamalia herbivor yang mengkonsumsi lamun sebagai makanan utamanya.

Di saat air laut surut, padang lamun yang mengering sementara ini sering pula dikunjungi oleh berbagai jenis burung dan hewan, yang sibuk mencari ikan-ikan dan hewan kecil yang terjebak dan tertinggal di antara kusutnya lamun. Burung-burung merandai dari suku Charadriidae, Scolopacidae dan Burhinidae kerap berdatangan untuk memburu aneka cacing, moluska dan ikan-ikan kecil sebagai makanannya. Demikian pula kuntul karang (Egretta). Di bagian yang dekat daratan sering pula dikunjungi biawak (Varanus) dan monyet kera (Macaca) untuk mencari makanan yang serupa.

2.7 Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Pertumbuhan Lamun
Parameter lingkungan utama yang mempengaruhi distribusi dan pertumbuhan ekosistem padang lamun adalah :

2.7.1 Kecerahan
Lamun membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi untuk melaksanakan proses fotosintesis. Hal ini terbukti dari hasil obserfasi yang menunjukkan bahwa distribusi padang lamun hanya terbatas pada perairan yang tidak terlalu dalam. Namun demikian pengatan di lapangan mengatakan bahwa sebaran komunitas lamun di dunia masih ditemukan hingga kedalaman 90 meter, asalkan kedalaman ini masih dapat cahaya matahari. Beberapa aktivitas yang dapat meningkatkan muatan sedimen pada bahan air akan berakibat pada tingginya kekeruhan perairan, sehingga berfungsi mengurangi penetrasi cahaya. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan pada produktivitas primer ekosistem padang lamun (http://fpik.bunghatta.ac.id).
Erftemeijer (1993) mendapatkan intensitas cahaya pada perairan yang jernih di Pulau Barang Lompo mencapai 400 u,E/m2/dtk pada kedalaman 15 meter. Sedangkan di Gusung Tallang yang mempunyai perairan keruh didapatkan intensitas cahaya sebesar 200 uJ3/m2/dtk pada kedalaman 1 meter.
Pada perairan pantai yang keruh, maka cahaya merupakan faktor pembatas pertumbuhan dan produksi lamun (Hutomo 1997). Hamid (1996) melaporkan adanya pengaruh nyata kekeruhan terhadap pertumbuhan panjang dan bobot E. acoroides.

2.7.2 Suhu
Beberapa peneliti melaporkan adanya pengaruh nyata perubahan suhu terhadap kehidupan lamun, antara lain dapat mempengaruhi metabolisme, penyerapan unsur hara dan kelangsungan hidup lamun (Brouns dan Hiejs 1986; Marsh et al. 1986; Bulthuis 1987). Marsh et al. (1986) melaporkan bahwa pada kisaran suhu 25 - 30°C fotosintesis bersih akan meningkat dengan meningkatnya suhu. Demikian juga respirasi lamun meningkat dengan meningkatnya suhu, namun dengan kisaran yang lebih luas yaitu 5-35°C.

Pengaruh suhu juga terlihat pada biomassa Cymodocea nodosa, dimana pola fluktuasi biomassa mengikuti pola fluktuasi suhu (Perez dan Romero 1992). Penelitian yang dilakukan Barber (1985) melaporkan produktivitas lamun yang tinggi pada suhu tinggi, bahkan diantara faktor lingkungan yang diamati hanya suhu yang mempunyai pengaruh nyata terhadap produktivitas tersebut. Pada kisaran suhu 10­35 °C produktivitas lamun meningkat dengan meningkatnya suhu.

2.7.3 Salinitas
Spesies lamun mempunyai kemampuan toleransi yang berbedabeda terhadap salinitas, namun sebagian besar memiliki kisaran yang lebih besar, yaitu antara 40 o/oo. Nilai salinitas optimum untuk spesies lamun adalah 35 o/oo. Salah satu yang menyebabkan kerusakan ekosistem padang lamun adalah meningkatnya salinitas yang diakibatkan oleh berkurangnya suplai air tawar dari sungai (http://fpik.bunghatta.ac.id).
Toleransi lamun terhadap salinitas bervariasi antar jenis dan umur. Lamun yang tua dapat menoleransi fluktuasi salinitas yang besar (Zieman 1986). Ditambahkan bahwa Thalassia ditemukan hidup dari salinitas 3,5-60 °°/o, namun dengan waktu toleransi yang singkat. Kisaran optimum untuk pertumbuhan Thalassia dilaporkan dari salinitas 24-35 °°/0.

Salinitas juga dapat berpengaruh terhadap biomassa, produktivitas, kerapatan, lebar daun dan kecepatan pulih lamun. Pada jenis Amphibolis antartica biomassa, produktivitas dan kecepatan pulih tertinggi ditemukan pada salinitas 42,5 °°/o. Sedangkan kerapatan semakin meningkat dengan meningkatnya salinitas, namun jumlah cabang dan lebar daun semakin menurun (Walker 1985).
Berbeda dengan hasil penelitian tersebut di atas, Mellors et al. (1993) dan Nateekarnchanalarp dan Sudara (1992) yang melakukan penelitian di Thailand tidak menemukan adanya pengaruh salinitas yang berarti terhadap faktor-faktor biotik lamun.

2.7.4 Substrat
Padang lamun hidup pada berbagai macam tipe substrat, mulai dari lumpur sampai sedimen dasar yang terdiri dari endapan lumpur halus sebesar 40%. Kedalaman substrat berperan dalam menjaga stabilitas sedimen yang mencakup 2 hal yaitu pelindung tanaman dari arus air laut, dan tempat pengolahan serta pemasok nutrien. Kedalaman sedimen yang cukup merupakan kebutuhan utama untuk pertumbuhan dan perkembangan habitat lamun (http://fpik.bunghatta.ac.id).
Tipe substrat juga mempengaruhi standing crop lamun (Zieman 1986). Selain itu rasio biomassa di atas dan dibawah substrat sangat bervariasi antar jenis substrat. Pada Thalassia, rasio bertambah dari 1 : 3 pada lumpur halus menjadi 1 : 5 pada lumpur dan 1 : 7 pada pasir kasar (Burkholder et al. 1959 dalam Zieman 1986).

2.7.5 Kecepatan arus perairan
Produktivitas padang lamun juga dipengaruhi oleh kecepatan arus perairan. Pada saat kecepatan arus sekitar 0.5 m detik-1, jenis turtle grass (Thalassia testudium) mempunyai kemampuan maksimal untuk tumbuh (http://fpik.bunghatta.ac.id).


2.7.6 Kedalaman
Kedalaman perairan dapat membatasi distribusi lamun secara vertikal. Lamun tumbuh di zona intertidal bawah dan subtidal atas hingga mencapai kedalaman 30 m. Zona intertidal dicirikan oleh tumbuhan pionir yang didominasi oleh Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Holodule pinifolia, Sedangkan Thalassodendron ciliatum mendominasi zona intertidal bawah (Hutomo 1997). Selain itu, kedalaman perairan juga berpengaruh terhadap kerapatan dan pertumbuhan lamun. Brouns dan Heijs (1986) mendapatkan pertumbuhan tertinggi E. acoroides pada lokasi yang dangkal dengan suhu tinggi. Selain itu di Teluk Tampa Florida ditemukan kerapatan T. testudinwn tertinggi pada kedalaman sekhar 100 cm dan menurun sampai pada kedalaman 150 cm (Durako dan Moffler 1985).

2.7.7 Nutrient
Dinamika nutrien memegang peranan kunci pada ekosistem padang lamun dan ekosistem lainnya. Ketersediaan nutrien menjadi fektor pembatas pertumbuhan, kelimpahan dan morfologi lamun pada perairan yang jernih (Hutomo 1997).
Unsur N dan P sedimen berada dalam bentuk terlarut di air antara, terjerap/dapat dipertukarkan dan terikat. Hanya bentuk terlarut dan dapat dipertukarkan yang dapat dimanfeatkan oleh lamun (Udy dan Dennison 1996). Dhambahkan bahwa kapasitas sedimen kalsium karbonat dalam menyerap fosfat sangat dipengaruhi oleh ukuran sedimen, dimana sedimen hahis mempunyai kapasitas penyerapan yang paling tinggi.
Di Pulau Barang Lompo kadar nitrat dan fosfet di air antara lebih besar dibanding di air kolom, dimana di air antara ditemukan sebesar 45,5 uM (nitrat) dan 7,1118 uM (fosfet), sedangkan di air kolom sebesar 21,75 uM (nitrat) dan 0,8397 uM (fosfet) (Noor et al 1996).

Penyerapan nutrien oleh lamun dilakukan oleh daun dan akar. Penyerapan oleh daun umumnya tidak terlalu besar terutama di daerah tropik (Dawes 1981). Penyerapan nutrien dominan dilakukan oleh akar lamun (Erftemeijer 1993). Mellor et al. (1993) melaporkan tidak ditemukannya hubungan antara faktor biotik lamun dengan nutrien kolom air.

2.8 Peranan Padang Lamun
Padang-padang lamun sering kali tumbuh luas menutupi wilayah-wilayah paparan benua. Dengan demikian menciptakan lingkungan dengan produktifitas tinggi yang tak bisa diabaikan. Kisaran produktifitas ini diperkirakan antara 500 – 1.000 C/m²/tahun (McRoy dan McMillan 1977 dalam Nybakken 1988), yang merupakan daerah paling produktif di laut setelah produktifitas plankton dan kebun kelp di daerah dingin.

Lamun sendiri tidak banyak dimanfaatkan secara langsung oleh manusia. Hanya ada beberapa jenis yang buahnya digunakan sebagai bahan makanan, itu pun bukan pada skala yang penting. Akan tetapi lamun penting secara ekologi karena menyerap nutrien dari tempat tumbuhnya yang berupa sedimen lumpur dan pasir. Dengan demikian lamun telah mengambil kembali nutrien dari dasar laut dan mengembalikannya ke dalam rantai makanan ekosistem. Sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh alga laut yang mengandalkan nutrien yang terkandung dalam air saja.

Walaupun begitu, sejauh ini belum banyak diketahui bagaimana rantai energi dan nutrien tersebut selanjutnya berperan dalam ekosistem pesisir yang lebih luas. Selain duyung, manate dan penyu, tidak banyak jenis ikan dan invertebrata yang diketahui memakan daun-daun lamun ini. Sehingga kemungkinan yang paling besar, lamun ini menyumbang ke dalam ekosistem pantai melalui detritus, yakni serpih-serpih bahan organik (daun, rimpang dll.) yang membusuk yang diangkut arus laut dan menjadi bahan makanan berbagai organisme pemakan detritus (dekomposer). (Nybakken 1988).

Gambar 4. Penyu yang merumput (grazzing) pada Padang Lamun
Secara fisik, sebagaimana diterangkan di atas, padang lamun juga telah mengubah lingkungan laut menjadi lebih tenang dan memerangkap berbagai sedimen. Perakaran lamun yang membentuk jalinan akar rimpang di bawah lapisan sedimen, telah membantu menstabilkan dasar laut serta melindunginya dari erosi pantai (abrasi) dan pasang surut.
Tutupan (coverage) tajuk rumput lamun ini juga memberikan naungan dari cahaya matahari langsung, menciptakan iklim mikro khusus di dasar perairan. Pada saat air laut surut, daun-daun lamun melindungi substrat dari teriknya matahari dan mencegah penghuninya dari kekeringan yang mematikan.

2.9 Lamun Sebagai Kunci Faktor Lingkungan
Sebaran dan pertumbuhan lamun ditentukan oleh berbagai faktor kualitas air seperti suhu, salinitas, ketersediaan nutrien, karakteristik dasar perairan, kekeruhan/kecerahan dan iradiasi matahari. Telah diketahui bahwa keterse-diaan nutrien mempengaruhi pertumbuhan, sebaran, morfologi dan daur musiman komunitas lamun. Sementara itu, lamun juga tergantung padan tingkat kecerahan air tertentu agar dapat melakukan proses fotosintesis. Peningkatan kekeruhan dan sedimentasi memberikan dampak menurunnya kesehatan dan produktivitas lamun.
Meskipun peristiwa alami telah diketahui menyebabkan kematian padang lamun secara global maupun lokal, bukti-bukti mutakhir memperlihatkan bahwa bertambahnya populasi manusia merupakan penyebab utama hilangnya habitat padang lamun. Meningkatnya aktifitas manusia telah menambah jumlah input nutrien dari daratan dan telah mematikan habitat padang lamun di berbagai wilayah. Kegiatan manusia yang paling mempengaruhi lamun adalah kegiatan-kegiatan di darat yang berdampak mengubah kualitas dan kecerahan air. Aktifitas-aktivitas tersebut meliputi pelepasan nutrien dan sedimen yang berasal dari usaha pertanian dan limbah domestik, pengerukan dan pengurugan, limbah perkotaan, pengembangan daerah hulu dan kegiatan perikanan tertentu seperti pertambakan.

Peningkatan nutrien di suatu perairan merupakan faktor penyebab turunnya kualitas perairan yang menstimulasi pertumbuhan rumput laut. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya kandungan nutrien berkorelasi dengan penyempitan sebaran padang lamun di beberapa perairan estuaria.
Peningkatan nutrien dapat berdampak memperlambat kolonisasi dan pertumbuhan, apabila berlangsung terus menerus maka kemampuan tumbuh dan penyebaran terus menurun sehingga dapat mengakibatkan hilangnya padang lamun. Hilangnya padang lamun akan menyebabkan peru-bahan daur makanan dan diikuti oleh pergantian produsen primer dari tumbuhan bentik ke fitoplankton dan berkurangnya jumlah detritus daun.
Dampak nutrien terhadap lamun dapat dibagi dalam empat kategori yaitu: dampak struktural, penyakit, penurunan fotosintesis dan perubahan ekosistem.

2.9.1 Dampak struktural
Pada kondisi kandungan nutrien tinggi, lamun menyerap kelebihan nutrien dari perairan. Hal tersebut dapat menimbulkan "stress" di dalam tumbuhan karena kurangnya ketersediaan ruangan di dalam jaringan interseluler untuk menampung akumulasi nitrat. Sebagai konsekuensinya, banyak nitrat yang akan diubah menjadi amonia sehingga dibutuhkan sejumlah karbon untuk mengkonversikan menjadi asam-asam amino. Apabila hal tersebut berlangsung terus menerus dalam kurun waktu lama, tumbuhan tersebut tidak mampu lagi memfiksasi karbon yang dibutuhkan. Kekurangan karbon di dalam jaringan seluler akhirnya akan memberikan dampak buruk terhadap keutuhan struktur lamun dan akhirnya mematikan tumbuhan tersebut.

2.9.2 Penyakit
Stres fisiologis yang disebabkan oleh ketidak-seimbangan pasokan nutrien juga dapat melemahkan tanaman sehingga rentan terhadap penyakit. Hal tersebut mungkin disebabkan berkurangnya produksi senyawa antimikroba pada kondisi nitrat yang berlebihan.

2.9.3 Penurunan fotosistesis
Peningkatan tumbuhnya biota penempel di permukaan daun lamun yang disebabkan oleh bertambahnya nutrien yang dapat diserap oleh algae epifitik dapat membatasi sinar matahari yang jatuh di permukaan daun lamun di bawahnya. Pengurangan cahaya yang mencapai khloroplast lamun mengurangi efektifitas fotosintesis. Penurunan efektifitas fotosintesis tersebut akan lebih mempercepat hilangnya keutuhan struktural dan meningkatkan terjangkitnya penyakit. Banyak dokumentasi kasus-kasus mengenai hilangnya padang lamun yang berkaitan dengan eutrofikasi karena peningkatan nutrien di perairan sehingga mengurangi penetrasi cahaya, atau berkurangnya cahaya yang dapat mencapai permukaan daun lamun karena terhalang oleh algae epifitik yang tumbuh di daun lamun.

2.9.4 Perubahan ekosistem
Pengayaan nutrien dapat meningkatkan pertumbuhan algae makroskopik maupun mikroskopik pada permukaan daun lamun. Nutrien memang dibutuhkan bagi pertumbuhan lamun, tetapi konsentrasi di tubuhnya lebih rendah daripada di tubuh algae makro. Karena perbedaan rasio di dalam karbon: nitrogen: dan fosfor, algae makro dapat mendominasi lamun pada kondisi nutrien yang berlebihan, baik sebagai epifit maupun spesies yang terapung bebas yang sebenarnya berasal dari bentuk yang menempel. Pertumbuhan epifit yang meningkat, pada akhirnya mengurangi sinar matahari sampai 65 % yang mengurangi laju fotosintesis dan kerapatan daun lamun. Akhirnya merubah komposisi komunitas padang lamun secara keseluruhan.

2.10 Ancaman Kelestarian Padang Lamun
Padang lamun diketahui sebagai salah satu habitat yang rentan terhadap kerusakan. Aneka kegiatan manusia diketahui memberikan dampak negatif yang merusak padang lamun (Fairhust & Graham 2003, Terrados & Duarte 2003).
Kegiatan pembangunan yang pesat dan perubahan peruntukan lahan di wilayah pantai telah meningkatkan masuknya sedimen ke laut dan menimbulkan eutrofikasi. Bertambahnya pelumpuran ini telah menaikkan konsentrasi lumpur, bahan organik, dan nutrien, serta telah meningkatkan kekeruhan air laut, yang pada gilirannya mengurangi kedalaman laut yang dapat dicapai cahaya matahari. Semua hal-hal ini berpengaruh buruk bagi ekosistem padang lamun.

Masuknya lumpur serta berjenis-jenis bahan organik yang dihasilkan aktivitas manusia ke laut juga telah meningkatkan jumlah dan jenis nutrien yang masuk ke padang lamun. Sementara sebagian nutrien dibutuhkan untuk tumbuhnya lamun, sebagian nutrien yang lain mungkin menghasilkan efek racun bagi lingkungan lamun. Nutrien yang semakin banyak dalam air juga meningkatkan pertumbuhan alga epifitik yang tumbuh menempel di daun-daun lamun, dan mengurangi kemampuan lamun berfotosintesis.

Dengan demikian cukup alasan bagi Terrados dkk. (1998, dalam Terrados dan Duarte 2003) untuk menyebutkan bahwa pelumpuran dan naiknya jumlah liat (clay) dalam air laut melebihi ambang tertentu, akan menurunkan secara tajam kekayaan spesies dan biomassa daun komunitas padang lamun. Sensitivitas jenis-jenis lamun ini berbeda-beda terhadap gangguan tersebut, mulai dari Syringodium yang paling sensitif hingga Enhalus sebagai jenis yang paling tahan.

Namun demikian Enhalus pun diketahui cukup terpengaruh oleh pelumpuran dengan berkurangnya pembungaan dan pembentukan buah pada air yang meningkat kekeruhannya. Kematian rumpun-rumpun Enhalus karena siltasi itu pun diduga dapat menurunkan kapasitas reproduksi Enhalus lebih jauh, mengingat pembentukan buah Enhalus berlangsung baik pada kepadatan rumpun yang cukup tinggi. (Terrados dan Duarte 2003).

2.11 Fungsi Padang Lamun
Menurut Azkab (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut dangkal yang paling produktif. Di samping itu juga ekosistem lamun mempunyai peranan penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut dangkal, sebagai berikut :
1. Sebagai produsen primer : Lamun memiliki tingkat produktifitas primer tertinggi bila dibandingkan dengan ekosistem lainnya yang ada dilaut dangkal seperti ekosistem terumbu karang (Thayer et al. 1975).
2. Sebagai habitat biota : Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat menempel berbagai hewan dan tumbuh-tumbuhan (alga). Disamping itu, padang lamun (seagrass beds) dapat juga sebagai daerah asuhan, padang pengembalaan dan makanan berbagai jenis ikan herbivora dan ikan-ikan karang (coral fishes) (Kikuchi & Peres, 1977).
3. Sebagai penangkap sedimen : Daun lamun yang lebat akan memperlambat air yang disebabkan oleh arus dan ombak, sehingga perairan disekitarnya menjadi tenang. Disamping itu, rimpang dan akar lamun dapat menahan dan mengikat sedmen, sehingga dapat menguatkan dan menstabilkan dasar permukaan. Jadi, padang lamun disini berfungsi sebagai penangkap sedimen dan juga dapat mencegah erosi (Gingsuburg & Lowestan, 1958).
4. Sebagai pendaur zat hara : Lamun memegang peranan penting dalam pendauran berbagai zat hara dan elemen-elemen yang langka dilingkungan laut. Khususnya zat-zat hara yang dibutuhkan oleh algae epifit.

Sedangkan menurut Philips & Menez (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem bahari yang produktif, ekosistem lamun pada perairan dangkal berfungsi sebagai :
1. Menstabilkan dan menahan sedimen–sedimen yang dibawa melalui tekanan–tekanan dari arus dan gelombang.
2. Daun-daun memperlambat dan mengurangi arus dan gelombang serta mengembangkan sedimentasi.
3. Memberikan perlindungan terhadap hewan–hewan muda dan dewasa yang berkunjung ke padang lamun.
4. Daun–daun sangat membantu organisme-organisme epifit.
5. Mempunyai produktifitas dan pertumbuhan yang tinggi.
6. Menfiksasi karbon yang sebagian besar masuk ke dalam sistem daur rantai makanan.

Selain itu secara ekologis padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting bagi wilayah pesisir, yaitu :
1.Produsen detritus dan zat hara.
2. Mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak, dengan sistem perakaran yang padat dan saling menyilang.
3. Sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar, dan memijah bagi beberapa jenis biota laut, terutama yang melewati masa dewasanya di lingkungan ini.

BAB III
MATERI DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Ekositem Padang Lamun dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Sabtu, 21 Mei 2011
Pukul : 09.45 WIB s/d selesai
Tempat : Pantai Teluk Awur, Jepara dan Laboraturium Biologi Kampus Teluk Awur Jurusan Ilmu Kelautan FPIK Universitas Diponegoro

3.2 Alat
Alat dan bahan yang digunakan selama praktikum adalah
o Transek 1 x 1 m, roll meter atautali raffia 100 m
o Sabak
o Kamera digital
o Masker dan snorkel (peralatan skin dive)
o Alattulis (kertas/buku,pensil,pen,pengaris).

3.3 Cara Kerja
o Letakkan transek berukuran 1 x 1 meter pada tempat yang terdapat lamun dengan cara acak (random).
o Letakkan transek kuadran pada daerah tersebut, transek tersebut memilki 16 kotak dimana setiap kotak akan diidentifikasi.
o Hitung tegakan pada transek dan persentase penutupan lamun yang terdapat pada transek.
o Identifikasi lamun yang terdapat pada transek baik secara genus maupun spesies.
o Identifikasi jenis substrat dimana lamun tersebut melekat.
o Ambil biota yang ada pada suatu kotak di transek jika tidak ditemukan lamun pada kotak transek tersebut.
o Lakukan pengulangan secara berulang sebanyak 3x di tempat lamun yang berbeda dan catat jenis lamun yang terdapat pada transek.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Hasil Sampling
4.1.1.1 Sampling I
A1
2 =25 % A2
0 =0% A3
0 =0% A4
0 =0%
A8
1=12,5 A7
0=0% A6
3=50% A5
1 =12,5%
A9
0=0% A10
0=0% A11
1=12,5% A12
1=12,5%
A16
1=12,5% A15
0=0%
A14
0=0% A13
0=0%

4.1.1.2 Sampling II
A1
3=50% A2
0=0% A3
0=0% A4
0=0%
A8
2=25% A7
1=12,5%
A6
3=50% A5
1=12,5%
A9
0=0% A10
0=0% A11
1=12,5% A12
1=12,5
A16
2=25% A15
0=0% A14
1=12,5 A13
0=0%

4.1.1.3 Sampling III

A1
2=25% A2
0=0% A3
0=0% A4
0=0%
A8
1=12,5% A7
0=0% A6
3=50%
A5
1=12,5%
A9
0=0% A10
0=0% A11
1=12,5% A12
1=12,5%
A16
2=25% A15
0=0% A14
0=0% A13
0=0%

4.2 Pembahasan
4.2.1 Sampling I

A1 =Terdapat 2 tegakan lamun maka persentasenya sebesar 25%
A2 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A3 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya aadalah 0%
A4 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A5 = Terdapat 1 tegakan maka persentasenya adalah 12,5%
A6 = Terdapat 3 tegakan maka persentasenya adalah 50%
A7 = Tidak terdapat tegakan dan maka persentasenya adalah 0%
A8 = Terdapat 1 tegakan maka persentasenya adalah 12,5%
A9 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A10 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A11 = Terdapat 1 tegakan maka persentasenya adalah 12,5%
A12 = Terdapat 1 tegakan maka persentasenya adalah 12,5%
A13 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A14 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A15 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A16 = Terdapat 1 tegakan maka persentasenya adalah 12,5%

4.2.2 Sampling II
A1 = Terdapat 3 tegakan maka persentasenya adalah 50%
A2 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A3 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A4 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A5 = Terdapat 1 tegakan maka persentasenya adalah 12,5%
A6 = Terdapat 3 tegakan maka persentasenya adalah 50%
A7 = Terdapat 1 tegakan maka persentasenya adalah 12,5%
A8 = terdapat 2 tegakan maka persentasenya adalah 25%
A9 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A10 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A11 = Terdapat 1 tegakan maka persentasenya adalah 12,5%
A12 = Terdapat 1 tegakan maka persentasenya adalah 12,5%
A13 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A14 = Terdapat 1 tegakan maka persentasenya adalah 12,5%
A15 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A16 = Terdapat 2 tegakan maka persentasenya adalah 25%

4.2.3 Sampling III
A1 = Terdapat 2 tegakan maka persentasenya adalah 25%
A2 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A3 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A4 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A5 = Terdapat 1 tegakan maka persentasenya adalah 12,5%
A6 = Terdapat 3 tegakan maka persentasenya adalah 50%
A7 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A8 = Terdapat 1 tegakan maka persentase nya adalah 12,5%
A9 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A10 = Tidak terdapat tegakan maka persentasnya adalah 0%
A11 = Terdapat 1 tegakan maka persentasenya adalah 12,5%
A12 = Terdapat 1 tegakan maka persentasenya adalah 12,5%
A13 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A14 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A15 = Tidak terdapat tegakan maka persentasenya adalah 0%
A16 = Terdapat 2 tegakan maka persentasenya adalah 25%

4.3 Penampang Daun Lamun
Seperti semua tumbuhan monokotil, daun lamun diproduksi dari meristem basal yang terletak pada potongan rhizoma dan percabangannya. Meskipun memiliki bentuk umum yang hampir sama, spesies lamun memiliki morfologi khusus dan bentuk anatomi yang memiliki nilai taksonomi yang sangat tinggi. Beberapa bentuk morfologi sangat mudah terlihat yaitu bentuk daun, bentuk puncak daun, keberadaan atau ketiadaan ligula. Contohnya adalah puncak daun Cymodocea serrulata berbentuk lingkaran dan berserat, sedangkan C. Rotundata datar dan halus. Daun lamun terdiri dari dua bagian yang berbeda yaitu pelepah dan daun. Pelepah daun menutupi rhizoma yang baru tumbuh dan melindungi daun muda. Tetapi genus Halophila yang memiliki bentuk daun petiolate tidak memiliki pelepah.

Anatomi yang khas dari daun lamun adalah ketiadaan stomata dan keberadaan kutikel yang tipis. Kutikel daun yang tipis tidak dapat menahan pergerakan ion dan difusi karbon sehingga daun dapat menyerap nutrien langsung dari air laut. Air laut merupakan sumber bikarbonat bagi tumbuh-tumbuhan untuk penggunaan karbon inorganik dalam proses fotosintesis.

4.3.1 Enhalus
Kingdom : Plantae
Divisi : Anthophyta
Kelas : Angiospermae
Ordo : Helobiae
Famili : Hydrocharitaceae
Genus : Enhalus

Jenis lamun ini disebut juga dengan lamun tropika. Jenis lamun ini memiliki akar yang kuat dan diselimuti oleh benang-benang hitam yang kaku. Daun mempunyai tulang daun, dan terdapat dalam pasangan pelepah bonggol. Pada bagian rhizoma terdapat semacam rambut yang merupakan akar dan akar lainnya yang menjulur ke bawah berwarna putih dan kaku. Tumbuhan ini terdapat di bawah air surut rata-rata pada pasang surut purnama pada dasar pasir lumpuran.(Moriaty,1989).

Ciri – ciri morfologi dari Enhalus acoroides adalah :
o Bentuk fisiknya paling besar dibanding spesies lamun yang lain.
o Daun berwarna hijau pekat.
o Daunnya panjang dan kebar seperti sabuk.
o Lebar daun + 3 cm.
o Panjang daun berkisar antara + 30 – 150 cm.
o Rimpangnya berdiameter lebih dari 1 cm.
(Moriaty, 1989).

4.3.2 Cymodecea
Kingdom : Plantae
Divisi : Anthophyta
Kelas : Angiospermae
Ordo : Helobiae
Famili : Cymodoceaceae
Genus : Cymodocea

Salah satu species dari genus Cymodoceaeadalah .Cymodoceae rotundata .Cymodoceae rotundata merupakan jenis lamun dengan bentuk daun seperti pita tipis yang panjang. Akar tumbuh pada bagian rhizoma yang menjalar mendatar dan memanjang, batang berwarna coklat. Tmbuh-tumbuhan ini terdapat tepat di bawah air surut rata-rata pada pasang surut purnama pada pantai pasir dan pantai lumpuran.(Nybakken,1992).

Ciri – ciri morfologi dari Cymodocea rotundata adalah :
o Tepi daun halus atau licin, tidak bergerigi.
o Akar pada tiap nodus terdiri dari 2 – 3 helai.
o Akar tidak bercabang dan tidak mempunyai rambut akar.
o Tulang daun sejajar.
o Jumlah tulang daun pada selembar daun adalah + 9 – 15 buah.
o Lebar daun dari samping ke samping + 4 mm.
o Jarak antar nodus + 1 cm.
o Tiap nodus hanya ada satu tegakan.
o Tiap tegakan terdiri dari 3 – 4 helai daun.
(Nybakken, 1992).

4.3.3 Thallasia
Divisi :Anthophyta
Kelas :Angiospermae
Subkelas :Monocotyledonae
Ordo :Helobiae
Famili :Hydrocharitaceae
Genus :Thalassia

Thalllasia memilki ciri-ciri:
o Rimpang berdiameter 2-4 mm tanpa rambut-rambutkaku
o Panjang daun 100-300 mm,lebar daun 4-10 mm

Mempunyai epidermis lebih kecil dengan inti sel lebih besar warnanya hijau tua,lebih tua dari enhalus. Bagian horizontalnya lebih jelas terlihat di banding enhalus. Pada jenis lamun Thalassia hemprichii memiliki ciri rimpang berdiameter 2-4 mm tanpa rambut-rambut kaku, panjang daun 100-300 mm, dan lebar daun 2-10 mm, sedangkan pada jenis lamun Holophila spinulosa memiliki cirri daun sampai 22 pasang, tidak miliki tangkai daun, dan tanggai panjang, dan untuk jenis lamun Halodule unerruis meliki ciri ujung daun seperti trisula.

4.4 Biota Ekosistem Padang Lamun Yang Ditemukan
4.4.1 Rissoina spirata
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Ordo : Caenogastropoda
Superfamily : Rissooidea
Family : Rissoidae
Genus : Rissoa
Spesies : Rissoina spirata

Rissoidae adalah keluarga kecil dan laut menit sangat siput denganoperkulum, laut gastropod dan moluska. Ciri-ciri shell memanjang, tinggi runcing, dari 7-8 whorls agak cembung dengan pelek jahit yang berbeda di bawah ini; whorl tubuh jelas terbatas. Patung whorls puncak menara dari rusuk aksial miring yang fade out pada whorl tubuh atau yang sebelumnya. Spiral patung alur sangat samar. Aperture oval, dengan bibir luar menebal, di dalam halus, dan sebuah kanal siphonal hampir tidak ditunjukkan. spesimen Mediterania 6-8 mm, sampai 14 mm di Laut Merah. Biasanya berwarna putih (http://www.ciesm.org/atlas/Rissoinaspirata.html)

4.4.2 Bittium reticulatum
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Subclass : Prosobranchia
Superorder : Caenogastropoda
Order : Neotaenioglossa
Family : Cerithiidae
Genus : Bittium
Species : Bittium reticulatum
(http://en.wikipedia.org/wiki/Bittium_reticulatum)


Ciri-ciri dari spesies Bittium reticulatum adalah
Cangkak memanjang, berbentuk kerucut, sampai dengan 16 cm (biasanya 10-12 cm) saat sedang hamill; apeks atau ujungnya runcing. Cangkang terdiri dari costae yang kuat dan striae spiral, berinteraksi untuk memberikan tuberkel oval empat baris pada whorls lebih rendah, tiga di whorlsatas, tidak ada tuberkel pada punggung spiral terendah setiapwhorl, atau di pegunungan basal whorl terakhir. Satu costa, varix, sering lebih menonjol dibanding yang lain; varix hampir whorlterakhir untuk aperture. Aperture oval, ditarik keluar ke sinussingkat; crenulate bibir luar, tanpa sinus dubur. Bibir batintercermin atas wilayah columella dan dasar whorl terakhir, tidak ada umbilikus. Berwarna coklat pada umumnya. tentakel cephalic panjang,ramping dengan mata pada tonjolan menonjol di pangkalan.Mantel tepi lobed luas, kaki panjang, sempit, dengan marjinanterior bermata dua kali lipat; besar proyek lobus keping penutup insang bagian belakang dari bawah operkulum oval (http://speciesidentification.org)

BAB V
PENUTUP


5.1 Kesimpulan
Ekosistem padang lamun sebenarnya merupakan ekosistem yang kaya akan biota. Aneka jenis cacing, moluska (siput dan kerang), teripang, ketam dan udang, dan berbagai jenis ikan kecil hidup menetap di sela-sela kerimbunan jurai-jurai lamun. Juga beberapa jenis bulu babi yang hidup dari daun-daun lamun. Pada praktikum kali ini kita menemukan bebrapa spesies moluska seperti Bittium reticulatum dan Rissoina spirata.

Ekosistem padang lamun juga memilki interaksi atau hubungan antar biota. Seperti contohnya ikan beronang (Siganus spp.) dan beberapa jenis udang (Penaeus spp.) menggunakan padang lamun sebagai tempat memijah dan membesarkan anak-anaknya. Selain itu beberapa jenis reptil dan mamalia laut menggunakan padang lamun sebagai tempat mencari makan. Misalnya penyu hijau (Chelonia mydas), duyung alias dugong (Dugong dugong) di perairan Australasia serta manate (Trichechus manatus) di Karibia. Duyung dan manate adalah mamalia herbivor yang mengkonsumsi lamun sebagai makanan utamanya. Di saat air laut surut, padang lamun yang mengering sementara ini sering pula dikunjungi oleh berbagai jenis burung dan hewan, yang sibuk mencari ikan-ikan dan hewan kecil yang terjebak dan tertinggal di antara kusutnya lamun. Burung-burung merandai dari suku Charadriidae, Scolopacidae dan Burhinidae kerap berdatangan untuk memburu aneka cacing, moluska dan ikan-ikan kecil sebagai makanannya. Demikian pula kuntul karang (Egretta). Di bagian yang dekat daratan sering pula dikunjungi biawak (Varanus) dan monyet kera (Macaca) untuk mencari makanan yang serupa. Disini dapat kita ketahui bahwa lamun juga berperan penting dalam rantai makanan.
Parameter lingkungan utama yang mempengaruhi distribusi dan pertumbuhan ekosistem padang lamun antara lain kecerahan, suhu, salinitas, substrat, kecepatan arus perairan, dan kedalaman nutrient. Faktor - faktor tersebut mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap pertumbuhan dan distribusi lamun pada suatu perairan.

5.2 Saran
Agar mendapatkan hasil yang maksimal dalam sampling, sebaiknya menggunakan teknik menyelam yang baik seperti yang sudah diajarkan, sehingga tidak memperkeruh air yang mengakibatkan kesusahan dalam sampling dan menentukan prosentase penutupan. Diharapkan menggunakan peralatan skin dive agar sampling semakin mudah dan semakin akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Kiki.2008. Mengenal ekosistem perairan.Jakarta:Grasindo.
Azkab, M.H.1988.Pertumbuhan dan produksi lamun, Enhalus acoroides di rataan terumbu di Pari Pulau Seribu.Dalam: P3O-LIPI, Teluk Jakarta: Biologi,Budidaya, Oseanografi,Geologi dan Perairan.Jakarta:Balai Penelitian Biologi Laut, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi-LIPI.
Azkab,M.H.1999.Kecepatan tumbuh dan produksi lamun dari Teluk Kuta, Lombok.Dalam:P3O-LIPI, Dinamika komunitas biologis pada ekosistem lamun di Pulau Lombok. Jakarta : LIPI.
Azkab,M.H. 1999.Pedoman Invetarisasi Lamun.Oseana 1: 1-16.
Fairhurst, R.A. and K.A. Graham.2003.Seagrass bed-sediment Characteristics of Manly Lagoon. In: Freshwater Ecology Report 2003.Sydney:Department of Environmental Sciences, University of Technology.
Fitriana, Pipit.2007.Hewan Laut; Buku Pengayaan Seri Flora dan Fauna.Jakarta:Ganeca Exact.
Hutomo, H.1997.Padang Lamun Indonesia : Salah Satu Ekosistem Laut Dangkal yang belum banyak dikenal.Jakarta:Jurnal Puslitbang OseanologiLIPI.
Nontji, A.1987.Laut Nusantara.Jakarta:Penerbit Djambatan.
Nybakken,J.W.1988.Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis.Jakarta:Gramedia.
PKSPL (Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan).1999.Perumusan kebijakan pengelolaan hayati laut Sulawesi Selatan.Proyek kerjasama BAPEDAL dengan Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan.Institut Pertanian Bogor.
Raharjo,Y.1996.Community Based Management di Wilayah Pesisir.Pelatihan Perencanaan Wilayah Pesisir Secara Terpadu. Pusat Kajian Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor.
Romimohtarto, Kasijan dan Sri Juwana.2009.”Biologi Laut”.Jakarta:Djambatan
Terrados, J. and C.M. Duarte.2003.Southeast Asian Seagrass Ecosystem Under Stress: have we improved?
http://blog.unila.ac.id/ekoefendi/2009/08/21/ekosistem-lamun/ (diakses hari Sabtu tanggal 4 Juni 2011 pukul 09.50)
http://dwiajengpramesti.wordpress.com/2010/01/08/lamun-seagrass/ (diakses hari Sabtu tanggal 4 Juni 2011 pukul 10.15)
http://fpik.bunghatta.ac.id (diakses hari Minggu tanggal 5 Juni 2011 pukul 08.00)
http://speciesidentification.org/species.php?species_group=mollusca&menuentry=soorten&id=577&tab=classificatie (diakses hari Minggu tanggal 5 Juni 2011 pukul 15.20)
http://en.wikipedia.org/wiki/Bittium_reticulatum (diakses hari Minggu tanggal 5 Juni 2011 pukul 15.20)
http://www.boldsystems.org/views/taxbrowser.php?taxid=95910 (diakses hari Minggu tanggal 5 Juni 2011 pukul 15.43)
http://en.wikipedia.org/wiki/Cymodocea (diakses hari Minggu tanggal 5 Juni 2011 pukul 15.43)
http://perikananunila.wordpress.com/2009/07/31/ekosistem-lamun/ (diakses hari Minggu tanggal 5 Juni 2011 pukul 16.00)
http://hendar08.blogspot.com/2011/04/konservasi-lamun.html (diakses hari Minggu tanggal 5 Juni 2011 pukul 16.05)
http://www.eol.org/pages/35152 (diakses hari Minggu tanggal 5 Juni 2011 pukul 16.24)
.