Rabu, 29 Juni 2011

LAPORAN ZOOPLANKTON

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Laut merupakan sebuah ekosistem besar yang di dalamnya terdapat interaksi yang kuat antara faktor biotik dan abiotik. Interaksi yang terjadi bersifat dinamis dan saling mempengaruhi. Lingkungan menyediakan tempat hidup bagi organisme-organisme yang menempatinya sebaliknya makluk hidup dapat mengembalikan energi yang dimanfaatkkannya ke dalam lingkungan. Suatu daur energi memberikan contoh nyata akan keberadaan interaksi tersebut. Di laut terjadi transfer energi antar organisme pada tingkatan tropis yang berbedadengan demikian terjadi proses produksi (Fachrul, 2006).

Organisme di dalam air sangat beragam dan dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk kehidupannya atau kebiasaan hidupnya yaitu: bentos, Periphyton, Plankton, Nekton dan Neuston. Plankton adalah organisme melayang atau mengambang di dalam air. Kemampuan geraknya, kalaupun ada, sangat terbatas, sehingga organisme tersebut selalu terbawa oleh arus (Kaswadji, 2001).

Zooplankton memiliki peranan yang sangat penting di lautan, dimana zooplankton merupakan kunci tingkatan trofik terendah (fitoplankton) ke tingkatan trofik tertinggi (sumberdaya ikan) dalam rantai makanan di lautan. Atmosfer dan lautan saling berinteraksi, artinya perubahan yang terjadi pada atmosfer (iklim) akan berpengaruh pada proses-proses yang terjadi di lautan dan sebaliknya. Perubahan karakteristik massa air laut yang disebabkan pengaruh iklim seperti perubahan lapisan homogen (mixed layer) akan berpengaruh pada dinamika biota laut khususnya zooplankton. Sebaliknya, zooplankton memiliki peranan penting dalam menyeimbangkan iklim dimana zooplankton merupakan kunci pembawa karbon dioksida ke laut dalam karena mereka dapat berenang 500 meter ke atas dan bawah (migrasi vertikal) dalam sehari. Seperti yang kita ketahui bahwasannya karbon dioksida merupakan senyawa yang menyebabkan pemanasan global. Aliran massa air yang melalui Perairan Indonesia atau disebut Arus Lintas Indonesia (Arlindo) merupakan aliran yang menghubungkan dua massa air yang memiliki karakteristik berbeda. Arlindo berperan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sirkulasi termohalin dan fenomena iklim dunia (Kaswadji, 2001).

Plankton dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu fitoplankton yang disebut plankton nabati dan zooplankton yang disebut plankton hewani. Zooplankton merupakan tumbuhan yang amat banyak terdapat di seluruh massa air, mulai dari permukaan sampai di kealaman dimana intensitas cahaya masih memungkinkan untuk fotosintesis (Nontji, 1987).

Menurut Nybakken (1988) dalam Fachrul (2006) mengatakan zooplankton yang hidup sangat beraneka ragam, yang terdiri atas berbagai bentuk larva dan bentuk dewasa yang dimiliki hamper seluruh filum hewan. Zooplankton menempati posisi penting dalam rantai makanan dan jarring-jaring kehidupan di perairan. Kemelimpahan zooplankton akan menentukan kesuburan suatu perairan oleh karena itu, dengan mengetahui keadaan plankton (zooplankton termasuk di dalamnya) di suatu daerah perairan, maka akan diketahui kualitas perairan tersebut.
Berdasar latar belakang di atas, praktikan tertarik untuk meneliti dan mengamati zooplankton agar dapat mengetahui definisi dan klasifikasi zooplankton yang beranekaragam.

1.2 Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui definisi serta terminologi Zooplankton
2. Mahasiswa dapat mengklasifikasikan genus serta ciri-ciri Zooplankton


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Zooplankton
Zooplankton merupakan anggota plankton yang bersifat hewani, sangat beraneka ragam dan terdiri dari bermacam larva dan bentuk dewasa yang mewakili hampir seluruh filum hewan (Nybakken,1992).

Zooplankton dan Fitoplankton merupakan bahan dasar semua rantai makanan di dalam perairan. zooplankton menempati perairan sampai dengan 200 m dan bermigrasi vertikal untuk mencari makan yang berupa fitoplankton (Omori dan Ikeda, 1984).

Zooplankton memegang peranan penting dalam jaring jaring makanan di perairan yaitu dengan memanfaatkan nutrient melalui proses fotosintesis (Kaswadji, 2001).

Dalam hubungannya dengan rantai makanan, terbukti zooplankton merupakan sumber pangan bagi semua ikan pelagis , oleh karena itu kelimpahan zooplankton sering dikaitkan dengan kesuburan perairan (Arinardi, 1997).

Zooplankton merupakan anggota plankton yang bersifat hewani, sangat beraneka ragam dan terdiri dari bermacam larva dan bentuk dewasa yang mewakili hampir seluruh filum hewan (Nybakken,1992).

Zooplankton disebut juga plankton hewani, adalah hewan yang hidupnya mengapung, atau melayang dalam laut. kemampuan renangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan kemana arus membawanya. Zooplankton bersifat heterotrofik, yang maksudnya tak dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan inorganik. Oleh karena itu, untuk kelangsungan hidupnya, ia sangat bergantung pada bahan organik dari fitoplankton yang menjadi makanannya. Jadi zooplankton lebih berfungsi sebagai konsumen bahan organik. Ukurannya paling umum berkisar 0,2 – 2 mm, tetapi ada juga yang berukuran besar misalnya ubur-ubur yang bisa berukuran sampai lebih satu meter. Kelompok yang paling umum ditemui antara lain kopepod (copepod), eufausid (euphausid), misid (mysid), amfipid (amphipod), kaetognat (chaetognath). Zooplankton dapat dijumpai mulai dari perairan pantai, perairan estuaria didepan muara sampai ke perairan di tengah samudra, dari perairan tropis hingga ke perairan kutub (Nontji, 2008).

Menurut Nybakken (1992), Zooplankton melakukan migrasi harian dimana Zooplankton bergerak ke arah dasar pada siang hari dan ke permukaan pada malam hari. Rangsangan utama yang menyebabkan migrasi vertikal harian adalah Cahaya. Zooplankton akan bergerak menjauhi permukaan bila intensitas cahaya di permukaan meningkat, dan Zooplankton akan bergerak ke permukaan laut apabila intensitas cahaya di permukaan menurun (Davis, 1955).

Zooplankton ada yang hidup di permukaan dan ada pula yang hidup di perairan dalam. Ada pula yang dapat melakukan migrasi vertikal harian dari lapisan dalam ke permukaan. Hampir semua hewan yang mampu berenang bebas (nekton) atau yang hidup di dasar laut (benthos) menjalani awal kehidupannya sebagai zooplankton yakni ketika masih berupa telur dan larva. Baru dikemudian hari, menjelang dewasa, sifat hidupnya yang bermula sebagai plankton berubah menjadi nekton atau benthos (Nontji, 2008).

2.2 Reproduksi dan Siklus Hidup Zooplankton
Reproduksi antara zooplankton crustacea pada umumnya unisexual melibatkan baik hewan jantan maupun betina, meskipun terjadi parthenogenesis diantara Cladocera dan Ostracoda. Siklus hidup copepoda Calanus dari telur hingga dewasa melewati 6 fase naupli dan 6 fase copepodit. Perubahan bentuk pada beberapa fase naupli pertama terjadi kira-kira beberapa hari dan mungkin tidak makan. Enam pase kopepodit dapat diselesaikan kurang dari 30 hari (bergantung suplai makan dan temperatur) dan beberapa generasi dari spesies yang sma mungkin terjadi dalam tahun yang sama (yang disebut siklus hidup ephemeral) (Parsons, 1984).

Nybaken (1992) menyatakan pada estuaria, sekitar 50-60 % persen produksi bersih fitoplankton dimakan oleh zooplankton. Pada dasarnya hampir semua fauna akuatik muda yang terdapat pada ekosistem mangrove, dikategorikan sebagai zooplankton. Usia muda dari fauna akuatik (larva) sebagian besar berada di ekosistem mangrove. Dan larva dikategorikan sebagai zooplankton, karena termasuk fauna yang pergerakannya masih dipengaruhi oleh pergerakan air, sebagaimana pengertian dari plankton itu sendiri. Oleh karena itu juga Tait (1987) mengkategorikan Gastropoda, Bivalva, telur ikan, dan larva ikan kedalam zooplankton.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa zooplankton dari Filum Protozoa, memakan bakteri dan fungi yang terdapat pada ekosistem mangrove. Selain itu taksa zooplankton yang sering dan banyak terdapat pada ekosistem mangrove adalah Copepoda. Ikan-ikan pelagis seperti teri, kembung, lemuru, tembang dan bahkan cakalang berprefensi sebagai pemangsa Copepoda dan larva Decapoda. Oleh karena itu, terdapat ikan penetap sementara pada ekosistem mangrove, yang cenderung hidup bergerombol dikarenakan kaitannya yang erat dengan adanya mangsa pangan pada ekosistem itu sendiri (Nybakken, 1992).

Reproduksi antara zooplankton crustacea pada umumnya unisexual melibatkan baik hewan jantan maupun betina, meskipun terjadi parthenogenesis diantara Cladocera dan Ostracoda. Siklus hidup copepoda Calanus dari telur hingga dewasa melewati 6 fase naupli dan 6 fase copepodit. Perubahan bentuk pada beberapa fase naupli pertama terjadi kira-kira beberapa hari dan mungkin tidak makan. Enam pase kopepodit dapat diselesaikan kurang dari 30 hari (bergantung suplai makan dan temperatur) dan beberapa generasi dari spesies yang sma mungkin terjadi dalam tahun yang sama (yang disebut siklus hidup ephemeral) (Nybakken, 1992).

2.3 Klasifikasi Zooplankton
Berdasarkan daur hidupnya zooplankton dibagi menjadi 3 kelompok menurut (Nontji, 2008) yaitu:
1. Holoplankton
Plankton yang seluruh daur hidupnya dijalani sebagai plankton, mulai dari telur, larva, hingga dewasa. Contohnya Kopepoda, Amfipoda, dll.
2. Meroplankton
Plankton dari golongan ini menjalani kehidupannya sebagai plankton hanya pada tahap awal dari daur hidup biota tersebut, yakni pada tahap sebagai telur dan larva saja, beranjak dewasa ia akan berubah menjadi nekton. Contohnya kerang dan karang.

3. Tikoplankton
Tikoplankton sebenarnya bukanlah plankton yang sejati karena biota ini dalam keadaan normalnya hidup di dasar laut sebagai bentos. Namun karena gerakan air ia bisa terangkat lepas dari dasar dan terbawa arus mengembara sementara sebagai plankton. Contohnya kumasea (Nontji, 2008).

Menurut Arinadi et al, (1997), Zooplankton dapat dikelompokkan berdasarkan ukurannya menjadi lima sebagai berikut :
1. Mikropankton
Mempunyai ukuran 20-200 μm dan organisme utamanya yaitu Ciliata, Foraminifera, Nauplius, Rotifera, Copepoda
2. Mesoplankton
Mempunyai ukuran 200μm - 2 m dan organisme utamanya yaitu Cladocera, Copepoda, Larvacea.
3. Makroplankton
Mempunyai ukuran 2-20 mm dan organisme utamanya yaitu Pteropada, Copepoda, Euphausiid, Chaetognatha
4. Mikronekton
Mempunyai ukuran 20-200 mm dan organisme utamanya yaitu Chepalopoda, Euphausiid, Sargestid, Myctopid
5. Megaloplankton
Mempunyai ukuran >20 mm dan organisme utamanya yaitu Scyphozoa, Thaliacea

Beberapa filum hewan terwakili di dalam kelompok zooplankton (Arinardi et.al., 1997) :

1. Protozoa
Kingdom Protista terdiri dari protozoa, berukuran kecil, dari fauna bersel tunggal sampai dengan beberapa filum, beberapa jenis terkenal sebagai bentuk yang dijumpai di lautan adalah foraminifera, radiolaria, zooflagellata dan ciliata. Protozoa dibagi dalam empat kelas yaitu: rhizopoda, ciliata, flagelata, dan sporozoa (Sachlan, 1982).
2. Arthropoda
Filum arthropoda adalah bagian terbesar zooplankton dan hampir semuanya termasuk kelas Crustacea. Crustacea berarti hewan-hewan yang mempunyai shell terdiri dari chitine atau kapur, yang sukar dicernakan. Salah satu subklasnya yang penting bagi perairan adalah Copepoda yang merupakan Crustacea holoplanktonik berukuran kecil yang mendominasi zooplankton di semua laut dan samudera (Nybakken, 1992).
3. Moluska
Dalam dunia hewan, filum moluska adalah nomor dua terbesar (Nybakken, 1992). Moluska bertubuh lunak, tidak beruas-ruas dan tubuhnya ditutupi oleh cangkang yang terbuat dari kalsium karbonat. Cangkang tersebut berguna untuk melindungi organ dalam dan isi rongga perut, tetapi ada pula moluska yang tidak bercangkang. Antara tubuh dan cangkang terdapat bungkus yang disebut mantel. Reproduksi terjadi secara seksual dengan fertilisasi internal (Bambang, 2004).
4. Coelenterata
Coelenterata atau Cnidaria adalah invertebrata laut yang pada taraf dewasa sering dijumpai. Biota-biota dalam filum ini meliputi hydra, ubur-ubur, anemon laut dan koral (Nybakken, 1992). Coelenterata mempunai siklus hidup yang menarik. Proses reproduksi aseksual maupun seksual menunjukkan suatu siklus hidup yang terkait dengan periode planktonik (Bambang, 2004).
5. Chordata
Anggota filum Chordata yang planktonik termasuk dalam kelas Thaliacea dan Larvacea, memiliki tubuh agar-agar dan makan dengan cara menaring makanan dari air laut. Larvaceae membangun cangkang di sekelilingnya dan memompa air agar melalui suatu alat penyaring di dalam cangkang ini terus menerus dibangun dan ditanggalkan (Nybakken, 1992).
6. Chaetognatha
Chaetognatha adalah invertebrata laut dengan jumlah spesies relatif sedikit tetapi sangat berperan terhadap jaring-jaring makanan di laut. Biota ini memiliki ciri-ciri antara lain bentuk tubuh memanjang seperti torpedo, transparan, organ berpasangan pada masing-masing sisi, memiliki bagian caudal yang memanjang sirip dan kepala dengan sepasang mata dan sejumlah duri melengkung di sekeliling mulut (Bambang, 2004).

2.4 Peranan Zooplankton dalam Jaring – jaring Makanan di Laut
Dalam hubungannya dengan rantai makanan, terbukti zooplankton merupakan sumber pangan bagi semua ikan pelagis , oleh karena itu kelimpahan zooplankton sering dikaitkan dengan kesuburan perairan (Arinardi, 1997).
Zooplankton penting karena di perairan memanfaatkan nutrient melalui proses fotosintesis (Kaswadji, 2001).

Hewan terbesar di dunia, paus biru (Balaenoptera physalus), makanan utamanya adalah zooplankton kecil, Euphasia superba, yang dikenal pula dengan nama “krill”, yang bentuknya seperti udang kecil berukuran 4 – 5 cm (Nontji, 2008).

Keberadaan zooplankton sebagai produser sekunder dan konsumer primer mempunyai ciri anatomi, morfologi dan fisiologi yang sangat spesifik. Dengan fungsi tersebut, setiap jenis zooplankton mempunyai spesifikasi dan sumbangan yang berbeda. Hal ini terutama karena sebagian dari fase larva biota laut masuk kedalam tahapan zooplankton. Oleh karenanya pengenalan terhadap ciri dan karakterisitik anatomi, morfologi dan fisiologi sangatlah diperlukan. Hal ini juga terkait dengan proses interaksi diantara zooplankton dengan habitatnya sebagai bagian dari strategi untuk mempertahankan kehidupan. (Rohmimohtarto, 1999).

Peranan zooplankton sebagai produsen sekunder ataupun sebagai konsumen primer sangat besar. Zooplankton sering melakukan gerakan naik turun pada perairan yang disebut sebagai migrasi vertical. Gerakan tersebut dimaksudkan untuk mencari makanan yaitu phytoplankton gerakan naik ke permukaan biasanya dilakukan pada malam hari, sedang gerakan ke dasar perairan dilakukan pada siang hari. Gerakan pada malam hari lebih banyak dilakukan karena adanya variasi makanan yaitu phytoplankton lebih banyak, selain itu dimungkinkan karena zooplankton menghindari sinar matahari langsung. (Nontji, 1993).


2.5 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Hidup Zooplankton
2.5.1 Fisika
1. Suhu
Pemilihan suhu yang optimal untuk budidaya pada pembesaran tergantung dari tipe morfologinya, small type dan long type juga berbeda dalam kebutuhanya terutama suhu optimal untuk pertumbuhannya. Suhu optimal antara 15-25oC. pada umumnya peningkatan suhu didalam batas-batas optimal biasanya mengakibatkan aktivitas reproduksi juga meningkat (Ekawati, 2005).
2. Kecerahan
Kecerahan atau kekeruhan air disebabkan oleh adanya partikel-partikel liat lumpur atau lainya yang mengendap, akan merusak nilai guna dasar perairan yang merupakan daerah pemijahan dan habitat berbgai organism (Wirawan, 1992).
Banyaknya cahaya yang menembus permukaan laut dan menerangi lapisan permukaan air laut setiap hari dan perubahan intensitas dengan bertambahnya memiliki peranan penting dalam menentukan pertumbuhan fitoplankton (juga zooplankton yang ada didalamnya) (Rommimohtarto dan Juwono, 2001).

2.5.2 Kimia
1. pH
Zooplankton biasanya banyak terdapat diperairan yang kaya bahan organic, zooplankton alam hidup pada pH > 6,6, sedangkan pada kondisi biasa yang optimal hidup pada kondisi pH 6-8 (Ekawait, 2005).
pH merupakan salah satu bagian dari factor yang sangat berpengaruh terhadap banyak tidaknya kelimpahan zooplankton disuatu perairan, adapun pH optimum yang baik untuk pertumbuhan atau kelimpahan zooplankton disuatu perairan alami adalah pH antara 6,2-8.6 (www.research.vi.oc.id, 2005).
2. DO (Oksigen Terlarut)
Porifera merupakan salah satu zooplankton yang dapat bertahan hidup di air dengan kadar oksigen terlarut yang rendah yakni 2mg/l. tingkat oksigen tertinggi dalam air budidaya tergantung apda suhu, salinitas, kepadatan, jenis makanan yang yang digunakan (Ekawati, 2005).

3. TOM
Menurut Baru (2001), sebagian besar zooplankton menggantungkan sumber nutrisinya pada materi organic, baik berupa fitoplankton maupun detritus.
4. Menurut Owen ( 1975 ), Orthopospat larut dalam air. Fungsi fosfat antara lain untuk:
• Pembedahan sel pertumbuhan
• Metabolisme karbohidrat
• Mempercepat kematangan sel
Menurut Andayani ( 2005 ), senyawa perairan mengandung total organik yang lain. Phospat dihidrolisa menjadi bentuk orto dan kelarutan fosfat organik diuraikan menjadi orthofosfat melalui aktivitas mikrobial.


BAB III
MATERI DAN METODE
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
No Nama Alat Fungsi
1. Mikroskop Untuk mengamati benda – benda mikro
2. Pipet tetes Untuk mengambil dan meneteskan sampel zooplankton
3. Botol Sampel Untuk menempatkan sampel zooplankton
4. Sedgewick rafter Untuk menjaga agar sampel yang akan diamati di mikroskop tidak tumpah atau mencacah jumlah zooplankton
5. Buku Identifikasi Untuk mengidentifikasi sampel yang diamati
6. Alat tulis Untuk mencatat sampel zooplankton
7. Kamera Untuk mendokumentasikan sampel yang diamati

3.1.2 Bahan
No Nama Bahan Fungsi
1. Formalin 4% Untuk mengawetkan sampel zooplankton
2. Sampel Zooplankton Untuk diamati praktikan

3.2 Metode Kerja
1. Siapkanlah mikroskop dan peralatan praktikum.
2. Ambillah sampel zooplankton dengan menggunakan pipet tetes sebanyak 1 ml.
3. Lalu taruhlah ke dalam sedgewick rafter.
4. Tutuplah dengan paper glass, jangan sampai ada gelembung udara dalam sedgewick rafter.
5. Amatilah sampel zooplankton dengan pembesaran mikroskop 40x.
6. Dokumentasikan dengan menggunakan kamera.
7. Gambar dan definisikan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Brachyura
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Malacostraca
Subclass : Eumalacostraca
Superorder : Eucarida
Order : Decapoda
Suborder : Pleocyemata
Infraorder : Brachyura
(www.itis.gov)

4.1.2 Macrosetella
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Copepoda
Infraclass : Neocopepoda
Superorder : Podoplea
Order : Harpacticoida
Family : Miraciidae
Genus : Macrosetella
(www.itis.gov)

4.1.3 Pseudocalanus
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Copepoda
Infraclass : Neocopepoda
Superorder : Gymnoplea
Order : Calanoida
Family : Clausocalanidae
Genus : Pseudocalanus
(www.itis.gov)

4.1.4 Trichocerca
Kingdom : Animalia
Phylum : Rotifera
Class : Eurotatoria
Subclass : Monogononta
Superorder : Pseudotrocha
Order : Ploima
Family : Trichocercidae
Genus : Trichocerca
(www.itis.gov)

4.1.5 Euchaeta
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Copepoda
Infraclass : Neocopepoda
Superorder : Gymnoplea
Order : Calanoida
Family : Euchaetidae
Genus : Euchaeta
(www.itis.gov)

4.1.6 Oithona
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Copepoda
Infraclass : Neocopepoda
Superorder : Podoplea
Order : Cyclopoida
Family : Oithonidae
Genus : Oithona
(www.itis.gov)

4.1.7 Cyclops
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Copepoda
Infraclass : Neocopepoda
Superorder : Podoplea
Order : Cyclopoida
Family : Cyclopidae
Genus : Cyclops
(www.itis.gov)

4.1.8 Balanus
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Thecostraca
Infraclass : Cirripedia
Superorder : Thoracica
Order : Sessilia
Suborder : Balanomorpha
Superfamily : Balanoidea
Family : Balanidae
Genus : Balanus
(www.itis.gov)

4.1.9 Lucifer
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Malacostraca
Subclass : Eumalacostraca
Superorder : Eucarida
Order : Decapoda
Suborder : Dendrobranchiata
Superfamily : Sergestoidea
Family : Luciferidae
Genus : Lucifer
(www.itis.gov)

4.1.10 Paracalanus
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Copepoda
Infraclass : Neocopepoda Huys
Superorder : Gymnoplea
Order : Calanoida
Family : Paracalanidae
Genus : Paracalanus
(www.itis.gov)

4.1.11 Nauplius
kingdom : Animalia
phylum : Copepoda
(www.itis.gov)

4.1.12 Calanus
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Crustacea
Class : Maxillopoda
Subclass : Copepoda
Infraclass : Neocopepoda
Superorder : Gymnoplea
Order : Calanoida
Family : Calanidae
Genus : Calanus (www.itis.gov)

4.1.13 Polychaeta
Kingdom : Animalia
Phylum : Annelida
Class : Polychaeta
(www.itis.gov)

4.2 Pembahasan
4.2.1 Brachyura
Kepiting adalah binatang anggota krustasea berkaki sepuluh dari upabangsa (infraordo) Brachyura, yang dikenal mempunyai "ekor" yang sangat pendek (bahasa Yunani: brachy = pendek, ura = ekor), atau yang perutnya (abdomen) sama sekali tersembunyi di bawah dada (thorax). Tubuh kepiting dilindungi oleh kerangka luar yang sangat keras, tersusun dari kitin, dan dipersenjatai dengan sepasang capit. Ketam adalah nama lain bagi kepiting (M. Jeffrey, 2005).
Kepiting terdapat di semua samudra dunia. Ada pula kepiting air tawar dan darat, khususnya di wilayah-wilayah tropis. Rajungan adalah kepiting yang hidup di perairan laut dan jarang naik ke pantai, sedangkan yuyu adalah ketam penghuni perairan tawar (sungai dan danau). Kepiting beraneka ragam ukurannya, dari ketam kacang, yang lebarnya hanya beberapa milimeter, hingga kepiting laba-laba Jepang, dengan rentangan kaki hingga 4 m (Hutabarat dan Evans, 1986).
Kepiting sejati mempunyai lima pasang kaki; sepasang kaki yang pertama dimodifikasi menjadi sepasang capit dan tidak digunakan untuk bergerak. Di hampir semua jenis kepiting, kecuali beberapa saja (misalnya, Raninoida), perutnya terlipat di bawah cephalothorax. Bagian mulut kepiting ditutupi oleh maxilliped yang rata, dan bagian depan dari carapace tidak membentuk sebuah rostrum yang panjang. Insang kepiting terbentuk dari pelat-pelat yang pipih ("phyllobranchiate"), mirip dengan insang udang, namun dengan struktur yang berbeda (http://id.wikipedia.org/wiki/Kepiting).

4.2.2 Macrosetella
Macrostella termasuk kedalam kelas crustaceae dengan ciri – ciri memiliki panjang setae lebih kurang seperti panjang tubuhnya. Tubuhnya berbentuk ramping dan memnajnag dengan kepala berbentuk kerucut yang tumpul. Memiliki furcal rami yang panjangnya kurang lebih empat kali dari lebarnya. Umumnya macrostella betina lebih panjang dibandingkan dengan yang jantan. Biasanya panjang tubuhnya berkisar antara 1,5 mm tanpa setae ( Romimohtarto, K & Juwana, S, 2004 ).

4.2.3 Pseudocalanus
Spesies Pseudocalanus merupakan kontributor penting bagi produksi sekunder dari belahan bumi utara pertengahan ke-lintang samudera tinggi. Pesisir di Teluk Alaska, Pseudocalanus adalah sepanjang tahun hadir dan diwakili oleh tiga spesies. Pada tahun 2001, mimus Pseudocalanus adalah spesies dominan Pseudocalanus di rak selama musim semi dan musim panas, terdiri dari 3-10% dari total, sedangkan Pseudocalanus newmani didominasi di Prince William Sound (10-90%). Pseudocalanus minutus hanya berlimpah di Prince William suara selama awal musim semi. Produksi telur (dengan jumlah dan volume) adalah fungsi dari panjang prosome perempuan dan menurun dari musim semi ke musim panas, namun, variabilitas signifikan disebabkan pengaruh regional yang independen ukuran (M. Jeffrey, 2005).

4.2.4 Trichocerca
Lorica tidak diratakan, asimetris, lebih atau kurang silindris. Kaki pendek dengan ujung h panjang periode yang tidak sama (Diurella subgenus), mempunyai satu kaki ada yang tidak mempunyai kaki (Trichocerca subgenus (s.str).). Spesies Kebanyakan litoral.. Lebih suka oligotropfic asam dan air (Sládeček 1983).

4.2.5 Euchaeta

4.2.6 Oithona
Ciri-ciri
1.Tonjolan-tonjolan kecil yang terdapat pada ruas pertama urosome sangat baik unuk mengidentifikasi hewan ini, tetapi tonjolan ini sangat sulit untuk dilihat
2.Pada betina urosome terdiri dari 5 ruas pada jantan 6 ruas
3.Panjang berkisar antara 0,5 sanpai 1,5 Mm
4.Habitat di perairan laut terbuka.
(Hutabarat dan Evans, 1986)
Oithona termasuk kedalam filum Arthropoda, kelas Maxillopoda, dan ordo cyclopoida. Oithona biasanya untuk jantan berukuran sekitar 0,5 – 1,6 mm dan untuk betina biasanya berukuran sekitar 0,55 – 0,9 mm. Ciri – ciri khusus dari oithona itu sendiri yaitu memiliki setae yang panjang pada furcal rami dan biasanya abdomen agak panjang serta tubuhnya transparan. Selain itu, oithona tidak berwarna dan akan menjadi kabur jika diawetkan. Oithona juga memiliki tonjolan – tonjolan kecil yang terdapat pada ruas pertama orosome sangat baik dipakai sebagai alat bantu dalam hal mengidentifikasi plankton jenis ini, tetapi sangat sulit dilihat. (Hutabarat dan Evans, 1986).

4.2.7 Cyclops
Cyclops adalah genus dari krustasea air tawar kecil (copepoda) ditandai dengan sebuah titik mata tunggal pada segmen kepala Cyclops sp.. Juga fitur antena, tubuh tersegmentasi, 5 pasang kaki, dan ekor "dibagi" disebut furca sebuah. Meskipun terlihat seperti Cyclops copepoda Diaptomus, karakteristik yang membedakan adalah bahwa Cyclops betina membawa dua kantung telur. Ada lebih dari 100 jenis Cyclops, paling berkisar antara 1-5 mm panjang, dan biasanya omnivora yang makan pada ganggang, dan organisme kecil lainnya yang bahkan dapat mencakup larva ikan goreng dan melemah. Meskipun lebih cepat daripada berukuran hampir sama Daphnia , Cyclops merupakan bagian penting dari sistem ekologi di mana mereka adalah mangsa alami benih ikan besar, ikan kecil, dan organisme air lainnya seperti hydras, dan White Larva Nyamuk ini. Cyclops juga penting dalam siklus hidup banyak air tawar seperti cestodes parasit (cacing pita), dan nematoda (cacing gelang) (Sugiarti, 1998).

4.2.8 Balanus
Balanus merupakan anggota dan Subphylum Crustacea kelas Cirripeda. Kelompok binatang laut ini dalam bentuk dewasa membentuk cangkang yang sama sekali tidak mirip udang, tetapi berupa cangkang berbentuk tajuk bunga, terdiri dari lempeng-lempeng kalsium karbonat. Binatang ini dalam bentuk dewasa hidup tertambat kuat pada batuan yang keras, cangkang dari intervetrebrata lain. Balanus pada masa kini banyak dijumpai di tepi laut pada zona litoral (zona pasang surut), melekat pada dinding atau tiang dermaga di pelabuhan, bahkan menempel pada lambung kapal.
Setelah menetas dari telur larvanya (yang disebut sebagai Cypris) menjalani kehidupan bebas (plagis neanic) bergerak dengan jalan berenang. Selama itu terjadi terjadi pergantian kulit sekali sampai tiga kali, baru terjadi perubahan, dimana larva tersebut membentuk cangkang setangkup dan mencari tempat untuk bertambat. Pertambatan ini terjadi pada bagian kepala selanjutnya cangkang yang setangkup dilepas dan selanjutnya ditumbuhkan lempeng-lempeng yaitu lempeng dasar yang dilekatkan secara kuat ke batuan atau tempat penambat yang lain dan lempeng samping yang bersifat tetap dan kaku tak bisa bergerak. Lempeng-lempeng ini berfungsi sebagai pelindung binatang tersebut dalam posisinya yang tertambat. Didalam lempeng yang kaku tersebut terdapat lempeng-lempeng yang bisa digerakkan oleh jaringan-jaringan otot yang melindungi tubuh (Sugiarti, 1998).
Balanus termasuk ke dalam filum Arthropoda , ordo sessilia. Merupakan zooplankton yang termasuk kedalam kelas Crustacea. Tubuhnya tertutup oleh cangkang kapur dan memiliki enam pasang embelan dada bercabang dua. Cangkang balanus ini dibangun langsung menempel pada substrat yakni dinamakan teritip baron(acorn barnacle).kelompok biota ini banyak hidup diperairan pantai dan pada benda-benda melekat dibawah atau diatas permukaan laut atau pada benda-benda terapung. Balanus sp dari kelompok crustasea bersama semua jenis bivalvia dan tunikata merupakan vertebrate yang hidupnya menempel secara permanen pada dinding tiang penyangga dermaga (sessile), sedangkan hewan lainnya memiliki kemampuan berpindah tempat (mobile). Fauna sessile tampaknya mempunyai peranan yang penting dalam proses pembentukan komunitas baik sebagai perintis mapun sebagai anggota utama yang memberikan peluang besar bagi terciptanya berbagai interaksi ekologis dalam rantai makanan dan habitat untuk berlindung ataupun pembesaran dari sebagian siklus hidup anggota komunitas lainnya (Hutabarat dan Evans, 1986).

4.2.9 Lucifer
Lucifera sp.memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Berbentuk seperti larva udang, memiliki kaki renang, terdapat antena
Ukurannya sama dengan protozoa dan acetes tetapi relatif lebih kurus. Ciri khasnya adalah telson yang berentuk persegi tanpa percabangan (Romimohtarto, K & Juwana, S, 2004).
Ukurannya berkisar antara 8-12 mm. Ketika hidup transparan dan setelah diawetkan buram tubuh pipih dengan tangkai mata yang panjang. Sebelum dewasa memiliki 2 tahap yaitu protozoea dan juvenil. Merupakan anggota zooplankton yang khas di daerah tropik (Romimohtarto, K & Juwana, S, 2004).
Lucifer mempunyai tubuh pipih dengan tangkai mata panjang. Sedangkan pada mata menonjol keluar. Tubuhnya mempunyai 4 segmen metasom. Dan pada kepala terdapat sepasang antenna (www.itis.gov)

4.2.9 Paracalanus
Paracalanus termasuk ke dalam filum Arhtropoda, kelas maxillopoda, dan ordo calanoida. Pada paracalanus jantan, urosome mempunyai 5 ruas, ruas anal relatif pendek, dengan lubang kemaluan terletak disamoing kiri. Untuk betina, urosome mempunyai 4 ruas, ruas anal mempunyai panjang yang sama dengan lebarnya dan lubang kemaluan terletak di bawah (Hutabarat dan Evans, 1986).
Ukuran Jantan 0.85-1.02 mm sedangkan betina berukuran 0.85-0.95 mm. Karakteristik yang membedakan yaitu Cephalosome membulat di depan kemudian pedigerous segmen menyatu. Segmen anal lebih panjang dibanding urosome segmen. Antena memanjang dari distal perbatasan sampai urosome. Sebagian besar ditemukan di perairan pantai di daerah tropis. Bersama dengan Acartia tranteri, jenis ini sering mendominasi estuarine perairan yang hangat. Makanannya berupa partikel di daerah muara yang dangkal (Hutabarat dan Evans, 1986).
Untuk plankton dengan subkelas copepoda, biasanya memperoleh makanan dengan cara memnfaatkan gerakan kaki renang dan umbai – umbai mulutnya yang menghasilkan pusaran air (vortex) dan arus yang membawa partikel makanannya ke saringan maksila (umbai – umbai pada bibirnya) yang selanjutnya akan diteruskan ke mulutnya untuk ditelan dan dicerna (Romimohtarto, K & Juwana, S, 2004).

4.2.10 Nauplius
Nauplius adalah larva tingkat pertama Nauplius memiliki tiga pasang umbai – umbai. Hewan ini mendapatkan makanan dengan memanfaatkan gerakan kaki renang dan umbai – umbai mulutnya yang menghasilkan pusaran air dan arus yang membawa partikel makanannya ke saringan maksila yang selanjutnya akan diteruskan ke mulutnya untuk ditelan dan dicerna (Nontji, 2008).
Nauplius termasuk ke dalam meroplankton laut dan merupakan larva tingkat pertama dari copepoda. Larvanya kecil sekali dengan 3 pasang kaki. Kaki pertama tidak bercabang dan 2 pasang kaki berikutnya bercabang. Bentuk badan bulat telur dengan bagian belakang meruncing. Setitik mata tunggal menghiasi bagian badan agak ke pinggir depan. Nantinya akan tumbuh menjadi metanauplius dengan munculnya tanda – tanda maxilla ( maksila ) kesatu dan kedua serta beberapa kaki pada dada, yang akan tumbuh lagi menjadi copepodit ( Romimohtarto, K & Juwana, S, 2004 ).

4.2.11 Calanus
Calanus adalah hewan dari subkelas Copepoda, di bawah kelas Crustacea, filum Arthropoda. Mempunyai kulit luar yang keras terbuat dari kitin. Memiliki dua antenna. Antenna pertama berukuran panjang dan antenna kedua berukuran kecil. Memperoleh makanan dengan memanfaatkan gerakan kaki renang dan umbai – umbai mulutnya yang menghasilkan pusaran air sehingga membawa partikel – partikel makanan masuk ke dalam maksila (Nontji, 2008).
4.2.12 Polychaeta
Polychaeta pada umumnya berbentuk memanjang, silindris dan tersusun atas bagian anterior yang terdiri dari prostomium dan periostomium yang mempunyai maupun tidak mempunyai parapodia. Sejumlah segmen pada bagian badan dan pygidium terletak pada ujung anterior. Setiap segmen mempunyai sepasang parapodia yang terdiri dari dorsal dan ventral (Hutabarat dan Evans, 1986).
Polychaeta banyak ditemui di pantai, sangat banyak terdapat pada pantai cadas, paparan lumpur dan sangat umum ditemui di pantai pasir. Beberapa jenis hidup dibawah batu, dalam lubang lumpur dan yang lainnya lagi hidup dalam tabung yang terbuat dari berbagai bahan. Meskipun mereka adalah hewan benthic, tetapi beberapa jenis berenang bebas di dekat permukaan laut, terutama selama musim memijah (Romimohtarto dan Juwana, 2001).
Cacing Polychaeta terutama hidup di laut, meskipun beberapa jenis nereid mempunyai toleransi terhadap salinitas rendah, dan telah beradaptasi untuk hidup di air payau dan estuaria. Beberapa terdapat di air tawar sampai 60 km dari laut, seperti di bogor terdiri dari sekitar 8000 spesies. Berasal dari bahasa Yunani “poly” berarti banyak dan “cheta” berarti setai atau sikat. Umumnya berukuran panjang 5 cm dengan diameter 2-10 mm. bentuk morfologi dan anatomi sangat beragam (Sugiarti, 1998).


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Zooplankton merupakan anggota plankton yang bersifat hewani.
2. Zooplankton merupakan sumber pangan bagi semua ikan pelagis.
3. Genus yang didapatkan dalam praktikum adalah Brachyura, Macrosetella, Pseudocalanus, Trichocerca, Euchaeta, Cyclops, Oithona, Balanus, Lucifer, Paracalanus, Nauplius, Calanus, Polychaeta, Trichoceica.

5.2 Saran
1. Sebaiknya praktikan di ajak dalam proses pengambilan sampel sehingga dapat mengetahui habitat dari fitoplankton tersebut.
2. Sebaiknya praktikan di jelaskan dulu prosedur sebelum pengamatan dibawah mikroskop dilakukan


DAFTAR PUSTAKA

Andayani, Sri. 2005. Manajemen Kualitas Air untuk Budidaya Perairan .Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya : Malang
Arinardi et all., 1997. Plankton; Fitoplankton dan Zooplankton. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Arinardi, O.H., A.B. Sutomo, S.A. Yusuf, Trianingnsih, E. Asnaryanti dan S. H. Riyono. 1997. Kisaran Kelimpahan dan Komposisi Plankton Predominan di Perairan Kawasan Timur Indonesia. P3O-LIPI. Jakarta.
Barus. 2003. Pengantar Limnologi Jurusan Biologi FMIPA . Universitas Negeri Sumatera Selatan : Palembang
Davis, 1955. The Marine And Fresh Water Plankton. Michigan State University Press. United State Of America.
Ekawati, A. W. 2005. Budidaya Makanan Alami. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.
Ferianita Fachhrul, M. 2006. Metode Sampling Bioekologi, Bumi Aksara, Jakarta
Kaswadji, R. 2001. Keterkaitan Ekosistem Di Dalam Wilayah Pesisir. Sebagian bahan
kuliah SPL.727 (Analisis Ekosistem Pesisir dan Laut). Fakultas Perikanan dan
Kelautan IPB. Bogor, Indonesia.
M. Jeffrey, 2005, Jurnal Penelitian Plankton Vol. 27 No 5
Nontji, Anugerah, Dr. 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta
Nontji, Anugerah. 2008. Plankton Laut. Jakarta : LIPI Press
Nybakken, James W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta:PT. Gramedia.
Nybakken, James W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta Gramedia
Omori, M & T. Ikeda, 1984. Method in Marine Zooplankton Ecology. Krieger Pub Co. 332p.
Owen, O. S. 1975, Natural Resources Conservation An Ecological Approach, New York, Macmillan Publishing Co. Inc
Parsons, T.R. Masayuki, T. dan Barry H., 1984. Biological Oceanographic Processes. 3rd Edition. Pergamon Press, Oxford.
Romimohtarto, Kasijan. 1999. Biologi Laut Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Jakarta : LIPI.
Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Semarang : UNDIP
Sládeček, V., 1983. Rotifers as indicators of water quality. - Hydrobiologia 100: 169–201.
Sugiarti S. 1998. Avertebrata Air. IPB, Bogor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar